Salah Satu Teori Seorang Arsitek Finlandia, Juhani Pallasmaa

Salah Satu Teori Seorang Arsitek Finlandia, Juhani Pallasmaa

Juhani Pallasma mengatakan untuk menghasilkan suatu ide tertentu pada saat merancang kita akan selalu mengingat apa yang sudah direkam di memori kita itu. Pallasmaa sangat mengingat bagaimana dia berada di ruang ( di perternakan kakeknya) dan sangat paham betul bagaimana rasanya di dalam ruangan tersebut. Pallasmaa talks about his similar approaches to designing and writing, and the early childhood experiences that led him to become a phenomenologist.”. (Builder, 2015)

Pallasmaa berfikir bahwa seni dari sebuah mata memaksakan dan memprovokasi pikiran tentang sebuah seni itu sendiri. Faktanya ungkapan tentang modernisme belum bisa menembus rasa suka dan nilai perhatian, memang modernism telah membuat mata dan akal kita nyaman, tapi dia telah melupakan badannya itu sendiri, seperti melupakan memori kita, melupakan impian, imajinasi, serasa tidak mempunyai apa yang kita katakan sebagai rumah. (Pallasmaa, 2005).

Ketertarikan dia dalam bekerja menggunakan badan dan tangan pada pabrik furniture membuat dia sangatlah peduli dengan indra manusia, karena perlahan – lahan dia sadar bahwa pentingnya sebuah sentuhan itu. Saya beranggapan bahwa sebuah setuhan itu merupakan penggabungan antara indra peraba dengan indra lainya. Pada sebuah buku yang dia karang, dia menghawatirkan tentang bagaimana desain itu dapat menyentuh  kita, secara nyata atau pun secara imajinasi. (Builder, 2015)

 

Tapi tidak untuk arsitek yang lebih mendahulukan tentang simbol – simbol dan oramen. Seperti Robert Venturi yang membuat sebuah bangunan dengan cara memasangkan suatu oranmen dan orang yang melihat akan langsung tau bahwa bangunan itu memiliki fungsi yang sama pada bentuknya  sebagai contoh pada bangunan “the duck”  yang di dalamnya terdapat daging bebek dan bebek yang sudah di potong dan dapat dijual. (Zilliacus, 2016)

Karena ketertarikannya terhadap indra manusia, membuat dia merancang  sesuatu yang dapat dinimakti oleh semua indra kita. Dia menggambil sekolah dalam ilmu Phenomenology. Karna dia tertarik akan suatu perasaan Saat dia bekerja (menulis) dia selalu teringat kedalam pengalaman pribadinya dan itu lah yang dia maksud dalam pengalaman akan selalu ada dalam memori dan mejadikan bahan dasar untuk merancang. Pada saat merancang sebuah bangunan atau yang lain, Pallasmaa mengutamakan tentang indra manusia, maka dari itu bangunan yang dia buat tidak membohongi perasaan manusia lewat mata, karna dari mata saja kita bisa mengetahui apakah bangunan itu berbohong atau tidak, apalagi saat kita menyentuhnya?  (Builder, 2015)

Seorang arsitek yang juga mementingkan tentang pengalaman manusia adalah Steven Holl, dia dan bironya mempunyai sebuah misi dalam merancang yaitu dengan pendekatan menuju fenomena dalam ruangan, sinar matahari yang menembus jendela dan warna dari pantulan material. Dari kriteria diatas kita dapat mengetahui bahwa Steven Holl terkenal atas typological dan phenomenological karna pendeketan desain dengan pengalaman manusia. Steven Holl juga sering berkolaborasi dengan Juhani Pallasmaa dan Alberto Perez-Gomez (MacLeod, 2017)

            Pallasma berfikir bagaimana indra manusia mempengaruhi apa yang kita sentuh maka di implementasikana lah ketertarikan dia tersebut kedalam bangunan yang dimana dibuat nya menarik dimata kita atau pun serasa imjinatif kita serasa menyentuh bangunan tersebut padahal hanya dengan melihatnya saja.

desain yang dia rancang merupakan cerminan dari apa yang dia pelajari dari bidang indra manusia, dia memberikan kita sebuah sentuhan pada mata yang dimana terasa dikulit kita bahwa kita sedang meraba material tersebut, hampir pada semua site yang dibangun olehnya merupakan penggabungan antara 2 teori yaitu tektonik dan fenomenologi, gaya arsitektur yang dipakai adalah Streotomik (tektonik) yang  mengutamakan material ketimbang yang laiinnya,di bagain eksterior pada gedung terdapat 2 material yaitu kayu dan bata, hanya dari indra penglihatan, kita dapat merasakan tekstur dari bata tersebut dan membuat kita merasakan pengalam yang baru saat berada di tengah – tengah gedung tersebut (fenomenologi). Penikmat atau pun orang yang melihat menyebabkan persaan ruang yang tercipta pada diri sendiri dan hanya dia yang dapat merasakanya(pribadi), setiap orang akan meraskaan pengalam ruang yang agak berbeda walaupun dari 1 objek saja.