Sektor Properti Harus Dioptimalkan untuk Gerakkan Ekonomi

loading... JAKARTA - Di tengah tekanan pandemi Covid-19, para pengembang berupaya mempertahankan kelangsungan usaha beserta nasib sedikitnya 30 juta pekerja di sektor properti dan industri ikutannya.Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Realestat Indonesia (REI) terus mengoptimalkan sektor properti sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti, Hendro Gondokusumo menuturkan, kedudukan sektor properti yang berkaitan erat dengan sektor lain (backward linkage) dan mempengaruhi pertumbuhan sektor lain (forward linkage), menjadikan sektor properti memiliki peran sentral pada pembangunan.Baca Juga:"Dari 175 sektor industri yang bergerak dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung dengan sektor properti, industri properti memiliki pangsa jumlah permintaan akhir 33,9% sehingga ini yang menjadikan industri properti sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional," ungkap Hendro dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis (14/5/2020).Hendro menambahkan, dalam situasi sekarang ini pergerakan sektor properti dalam negeri harus dioptimalkan. "Sekarang saatnya untuk memaksimalkan potensi lokal. Industri properti Indonesia itu 90% kandungannya adalah lokal, bahkan 100% untuk rumah sederhana. Ini sangat strategis untuk menggerakkan perekonomian kita," tegasnya. Baca: Stimulus Fiskal Jadi Pendorong Sektor Properti 2020Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Properti Apindo Sanny Iskandar mengatakan, keberlangsungan usaha properti dalam kondisi pandemi juga akan sangat berimbas pada persoalan ketenagakerjaan. Jika industri properti dan industri ikutannya terganggu, maka kurang lebih sekitar 30 juta pekerja yang berpotensi akan terdampak berdasarkan hasil kajian terbatas Kadin, Apindo dan REI."Belum lagi ditambah dengan sektor informal yang juga ikut terdampak seperti sewa kontrakan dan warung-warung untuk para pekerja lapangan. Jadi kita semua harus berupaya agar industri properti ini jangan sampai terganggu karena ada 30 jutaan pekerja yang berpotensi terdampak. Ini kan jumlah yang sangat besar dan tidak main-main," pungkasnya.(bon) Let's block ads! (Why?)

Sektor Properti Harus Dioptimalkan untuk Gerakkan Ekonomi
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

loading...

JAKARTA - Di tengah tekanan pandemi Covid-19, para pengembang berupaya mempertahankan kelangsungan usaha beserta nasib sedikitnya 30 juta pekerja di sektor properti dan industri ikutannya.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Realestat Indonesia (REI) terus mengoptimalkan sektor properti sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Properti, Hendro Gondokusumo menuturkan, kedudukan sektor properti yang berkaitan erat dengan sektor lain (backward linkage) dan mempengaruhi pertumbuhan sektor lain (forward linkage), menjadikan sektor properti memiliki peran sentral pada pembangunan.

Baca Juga:

"Dari 175 sektor industri yang bergerak dengan keterkaitan langsung dan tidak langsung dengan sektor properti, industri properti memiliki pangsa jumlah permintaan akhir 33,9% sehingga ini yang menjadikan industri properti sebagai lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional," ungkap Hendro dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Kamis (14/5/2020).

Hendro menambahkan, dalam situasi sekarang ini pergerakan sektor properti dalam negeri harus dioptimalkan. "Sekarang saatnya untuk memaksimalkan potensi lokal. Industri properti Indonesia itu 90% kandungannya adalah lokal, bahkan 100% untuk rumah sederhana. Ini sangat strategis untuk menggerakkan perekonomian kita," tegasnya. Baca: Stimulus Fiskal Jadi Pendorong Sektor Properti 2020

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Bidang Properti Apindo Sanny Iskandar mengatakan, keberlangsungan usaha properti dalam kondisi pandemi juga akan sangat berimbas pada persoalan ketenagakerjaan. Jika industri properti dan industri ikutannya terganggu, maka kurang lebih sekitar 30 juta pekerja yang berpotensi akan terdampak berdasarkan hasil kajian terbatas Kadin, Apindo dan REI.

"Belum lagi ditambah dengan sektor informal yang juga ikut terdampak seperti sewa kontrakan dan warung-warung untuk para pekerja lapangan. Jadi kita semua harus berupaya agar industri properti ini jangan sampai terganggu karena ada 30 jutaan pekerja yang berpotensi terdampak. Ini kan jumlah yang sangat besar dan tidak main-main," pungkasnya.

(bon)

Let's block ads! (Why?)