Sentimen Cenderung Negatif, Yield Mayoritas SBN Menurun

Jakarta, CNBCIndonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup menguat pada perdagangan Senin (24/1/2022), di tengah peningkatan kasus virus corona (Covid-19) di global maupun di Indonesia dan masih lesunya bursa saham global. Mayoritas investor memburu obligasi pemerintah pada hari ini, ditandai dengan turunnya imbal hasil atawa yield. Hanya SBN bertenor satu tahun, 15 tahun, dan 30 tahun yang cenderung dilepas oleh investor, ditandai dengan kenaikan yield dan pelemahan harga. Melansir data dari Refinitiv, yield SBN bertenor satu tahun naik signifikan sebesar 15,3 basis poin (bp) ke level 3,085%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 15 tahun naik 1,2 bp ke level 6,394%, dan yield SBN berjangka waktu 30 tahun menguat 1,9 bp ke level 6,878%. Sementara untuk yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara berbalik menurun sebesar 0,7 bp ke level 6,418%. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%. Di dalam negeri, investor berfokus pada perkembangan pandemi Covid-19 di Tanah Air, di mana kasus infeksi harian Covid-19 meningkat hampir 18x sejak awal tahun. Hingga saat ini secara kumulatif, ada 1.161 kasus konfirmasi Omicron ditemukan di Indonesia. Setelah ditelusuri, lebih banyak infeksi yang ditemukan akibat imported case yang mengindikasikan sumbernya lebih banyak dari luar negeri. Tak hanya di RI saja, perkembangan pandemi Covid-19 juga masih menjadi cermatan pelaku pasar global, di mana saat ini Omicron menjadi varian dominan setelah pada tahun lalu Delta menjadi dominannya. Sejak ditemukan pada akhir November tahun lalu, kasus harian Covid-19 secara global naik sampai 4x dan sekarang tembus angka 3 juta per hari. Di lain sisi, dari Amerika Serikat (AS), yield surat utang pemerintah (Treasury) terpantau kembali melandai pada pagi hari ini waktu AS, di mana yield Treasury bertenor 10 tahun sudah kembali ke kisaran level 1,7%. Dilansir dari CNBC International, yield Treasury bertenor 10 tahun cenderung melemah 1,7 bp ke level 1,73%, dari sebelumnya pada penutupan Jumat akhir pekan lalu di level 1,747%. Melandainya kembali yield Treasury bertenor 10 tahun terjadi jelang rapat komite pengambil kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC), yang akan dilaksanakan pada 25-26 Januari 2022. Dengan inflasi di AS yang terus membandel, pasar memperkirakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) bakal agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya. The Fed diperkirakan bakal menaikkan suku bunga acuan 4-5 kali di tahun 2022. Setelah itu bank sentral AS juga diprediksi akan menempuh kebijakan moneter kontraktif dengan mereduksi ukuran neracanya (balance sheet). TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] (chd/chd) Adblock test (Why?)

Sentimen Cenderung Negatif, Yield Mayoritas SBN Menurun
Jakarta, CNBCIndonesia - Harga mayoritas obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara (SBN) ditutup menguat pada perdagangan Senin (24/1/2022), di tengah peningkatan kasus virus corona (Covid-19) di global maupun di Indonesia dan masih lesunya bursa saham global. Mayoritas investor memburu obligasi pemerintah pada hari ini, ditandai dengan turunnya imbal hasil atawa yield. Hanya SBN bertenor satu tahun, 15 tahun, dan 30 tahun yang cenderung dilepas oleh investor, ditandai dengan kenaikan yield dan pelemahan harga. Melansir data dari Refinitiv, yield SBN bertenor satu tahun naik signifikan sebesar 15,3 basis poin (bp) ke level 3,085%, sedangkan yield SBN berjatuh tempo 15 tahun naik 1,2 bp ke level 6,394%, dan yield SBN berjangka waktu 30 tahun menguat 1,9 bp ke level 6,878%. Sementara untuk yield SBN dengan tenor 10 tahun yang merupakan yield acuan obligasi negara berbalik menurun sebesar 0,7 bp ke level 6,418%. Yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat, demikian juga sebaliknya. Satuan penghitungan basis poin setara dengan 1/100 dari 1%. Di dalam negeri, investor berfokus pada perkembangan pandemi Covid-19 di Tanah Air, di mana kasus infeksi harian Covid-19 meningkat hampir 18x sejak awal tahun. Hingga saat ini secara kumulatif, ada 1.161 kasus konfirmasi Omicron ditemukan di Indonesia. Setelah ditelusuri, lebih banyak infeksi yang ditemukan akibat imported case yang mengindikasikan sumbernya lebih banyak dari luar negeri. Tak hanya di RI saja, perkembangan pandemi Covid-19 juga masih menjadi cermatan pelaku pasar global, di mana saat ini Omicron menjadi varian dominan setelah pada tahun lalu Delta menjadi dominannya. Sejak ditemukan pada akhir November tahun lalu, kasus harian Covid-19 secara global naik sampai 4x dan sekarang tembus angka 3 juta per hari. Di lain sisi, dari Amerika Serikat (AS), yield surat utang pemerintah (Treasury) terpantau kembali melandai pada pagi hari ini waktu AS, di mana yield Treasury bertenor 10 tahun sudah kembali ke kisaran level 1,7%. Dilansir dari CNBC International, yield Treasury bertenor 10 tahun cenderung melemah 1,7 bp ke level 1,73%, dari sebelumnya pada penutupan Jumat akhir pekan lalu di level 1,747%. Melandainya kembali yield Treasury bertenor 10 tahun terjadi jelang rapat komite pengambil kebijakan (Federal Open Market Committee/FOMC), yang akan dilaksanakan pada 25-26 Januari 2022. Dengan inflasi di AS yang terus membandel, pasar memperkirakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) bakal agresif dalam mengetatkan kebijakan moneternya. The Fed diperkirakan bakal menaikkan suku bunga acuan 4-5 kali di tahun 2022. Setelah itu bank sentral AS juga diprediksi akan menempuh kebijakan moneter kontraktif dengan mereduksi ukuran neracanya (balance sheet). TIM RISET CNBC INDONESIA [Gambas:Video CNBC] (chd/chd) Adblock test (Why?)