'Solar Mamas' Terangkan Desa Malawi


Sekelompok perempuan Malawi membuat perbedaan di desa-desa yang sejak lama tidak memiliki listrik. Para perempuan itu memasang dan memelihara perangkat surya di rumah-rumah dan sekolah-sekolah. Para perempuan yang dijuluki sebagai "Solar Mamas" itu, dilatih di India sebagai teknisi energi surya, disponsori berbagai yayasan. Energi surya telah memungkinkan para pelajar di desa-desa di Malawi untuk belajar pada malam hari dan membantu keluarga mereka mendapat lebih banyak penghasilan. Sekilas, sejumlah perempuan di ibukota Malawi, Lilongwe, mungkin terlihat seperti warga desa biasa. Tapi setelah berbincang dengan mereka, terungkap bahwa mereka adalah insinyur energi surya yang terlatih. Perempuan Malawi tengah berdiri di Kazembe di luar Lilongwe, 20 April 2007. (Photo: REUTERS/Siphiwe Sibeko) "Solar Mamas" membantu menjembantani kesenjangan energi di desa di Malawi, negara dimana hanya 10 persen dari populasi terkoneksi dengan jaringan listrik. Kelompok-kelompok amal Barefoot dan Voluntary Services Overseas, atau VSO, mensponsori pelatihan perempuan selama enam bulan di India."Kami melatih perempuan-perempuan buta huruf karena kami meyakini bahwa pendidikan bukan hanya di ruang kelas. Dan kami ingin memberitahu orang-orang bahwa perempuan sekalipun bisa menjadi teknisi energi surya. Maka, kami sengaja memilih perempuan yang berusia sekitar 45 tahun dan tidak lulus SD," kata Mtisunge Mngoli, manager program "Solar Mamas" di VSO. Para perempuan membawa keranjang berisi makanan di kepala mereka di sebuah pasar di Blantyre, Malawi, 10 Juli 2017. (Foto: REUTERS/Siphiwe Sibeko) Para perempuan ini telah membawa energi surya ke lebih dari 200 rumah tangga di desa-desa di sekitar ibu kota Malawi, Lilongwe.Aliness Nepiyasi, salah seorang dari delapan "Solar Mamas" yang terlatih, mengatakan keterampilan yang dipelajari dari India sangat bermanfaat. "Karena setelah kami memasang atau memperbaiki perangkat surya, kami diberi uang yang membantu kami memebiayai kebutuhan sehari-hari," katanya. Program itu membantu sejumlah warga desa merintis bisnis cas baterai, sehingga tidak perlu lagi melakukan perjalanan lama untuk mengecas ponsel. "Solar Mamas" juga telah menghubungkan sekolah-sekolah dengan energi surya, memungkinkan para siswa -- untuk pertama kalinya -- menghadiri kelas-kelas pada pagi dan malam hari. "Kehadiran energi surya disini sangat membantu. Karena di masa lalu, saya tidak bisa belajar di rumah karena orangtua saya miskin dan tidak mampu membeli lampu atau senter. tapi kini, saya datang kesini pada malam hari untuk belajar dan mengerjakan tugas," kata Ethel Phiri, pelajar kelas 8 di Sekolah Chatsala di Lilongwe. "Solar Mamas" juga telah melatih para pemuda Malawi mengenai energi surya agar mereka bisa menjadi generasi Solar Mama dan Papa berikutnya. [vm/jm]

'Solar Mamas' Terangkan Desa Malawi


Sekelompok perempuan Malawi membuat perbedaan di desa-desa yang sejak lama tidak memiliki listrik. Para perempuan itu memasang dan memelihara perangkat surya di rumah-rumah dan sekolah-sekolah. Para perempuan yang dijuluki sebagai "Solar Mamas" itu, dilatih di India sebagai teknisi energi surya, disponsori berbagai yayasan. Energi surya telah memungkinkan para pelajar di desa-desa di Malawi untuk belajar pada malam hari dan membantu keluarga mereka mendapat lebih banyak penghasilan.

Sekilas, sejumlah perempuan di ibukota Malawi, Lilongwe, mungkin terlihat seperti warga desa biasa. Tapi setelah berbincang dengan mereka, terungkap bahwa mereka adalah insinyur energi surya yang terlatih.

Perempuan Malawi tengah berdiri di Kazembe di luar Lilongwe, 20 April 2007. (Photo: REUTERS/Siphiwe Sibeko)
Perempuan Malawi tengah berdiri di Kazembe di luar Lilongwe, 20 April 2007. (Photo: REUTERS/Siphiwe Sibeko)

"Solar Mamas" membantu menjembantani kesenjangan energi di desa di Malawi, negara dimana hanya 10 persen dari populasi terkoneksi dengan jaringan listrik.

Kelompok-kelompok amal Barefoot dan Voluntary Services Overseas, atau VSO, mensponsori pelatihan perempuan selama enam bulan di India.

"Kami melatih perempuan-perempuan buta huruf karena kami meyakini bahwa pendidikan bukan hanya di ruang kelas. Dan kami ingin memberitahu orang-orang bahwa perempuan sekalipun bisa menjadi teknisi energi surya. Maka, kami sengaja memilih perempuan yang berusia sekitar 45 tahun dan tidak lulus SD," kata Mtisunge Mngoli, manager program "Solar Mamas" di VSO.

Para perempuan membawa keranjang berisi makanan di kepala mereka di sebuah pasar di Blantyre, Malawi, 10 Juli 2017. (Foto: REUTERS/Siphiwe Sibeko)
Para perempuan membawa keranjang berisi makanan di kepala mereka di sebuah pasar di Blantyre, Malawi, 10 Juli 2017. (Foto: REUTERS/Siphiwe Sibeko)

Para perempuan ini telah membawa energi surya ke lebih dari 200 rumah tangga di desa-desa di sekitar ibu kota Malawi, Lilongwe.

Aliness Nepiyasi, salah seorang dari delapan "Solar Mamas" yang terlatih, mengatakan keterampilan yang dipelajari dari India sangat bermanfaat.

"Karena setelah kami memasang atau memperbaiki perangkat surya, kami diberi uang yang membantu kami memebiayai kebutuhan sehari-hari," katanya.

Program itu membantu sejumlah warga desa merintis bisnis cas baterai, sehingga tidak perlu lagi melakukan perjalanan lama untuk mengecas ponsel.

"Solar Mamas" juga telah menghubungkan sekolah-sekolah dengan energi surya, memungkinkan para siswa -- untuk pertama kalinya -- menghadiri kelas-kelas pada pagi dan malam hari.

"Kehadiran energi surya disini sangat membantu. Karena di masa lalu, saya tidak bisa belajar di rumah karena orangtua saya miskin dan tidak mampu membeli lampu atau senter. tapi kini, saya datang kesini pada malam hari untuk belajar dan mengerjakan tugas," kata Ethel Phiri, pelajar kelas 8 di Sekolah Chatsala di Lilongwe.

"Solar Mamas" juga telah melatih para pemuda Malawi mengenai energi surya agar mereka bisa menjadi generasi Solar Mama dan Papa berikutnya. [vm/jm]