Sri Mulyani Ingin Nilai Tambah Ekonomi Sawit dari Hilirisasi Digenjot

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pemerintah ingin meningkatkan nilai tambah ekonomi komoditas minyak sawit (crude palm oil/CPO) dengan mempercepat proses hilirisasi industri. Tujuannya, untuk memberi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi perekonomian Indonesia."Presiden Jokowi ingin melakukan transformasi ekonomi Indonesia agar tidak hanya dihasilkan dari bahan mentah, tapi untuk meningkatkan nilai tambah, terutama melalui hilirisasi industri," ujar Ani, sapaan akrabnya di Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2021, Rabu (1/12). Saat ini, Ani mengatakan industri sawit sudah memberikan kontribusi yang besar melalui peningkatan ekspor selama pandemi covid-19. Tercatat, sumbangan ekspor dari sektor ini senilai US$21,4 miliar atau 14 persen dari total penerimaan devisa ekspor non-migas. Padahal, ekspor tersebut masih didominasi oleh bahan mentah. Dengan demikian, nilainya akan meningkat jika dilakukan hilirisasi. "Semakin hilir meningkat, nilai tambahnya semakin besar sehingga jika diekspor pastinya mendatangkan devisa yang lebih besar yang bisa dipergunakan bagi kesejahteraan Indonesia," ucapnya. Tak hanya memberi nilai ekonomi dari sisi ekspor, industri sawit juga memberi pendapatan bagi masyarakat. Tercatat, ada 4,2 juta tenaga kerja yang bekerja langsung di sektor ini dan 12 juta tenaga kerja yang bekerja secara tidak langsung. Bila hilirisasi dilakukan, maka akan membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat. Selain itu, hilirisasi juga perlu untuk meningkatkan diversifikasi produk turunan CPO dan meningkatkan konsumsi masyarakat. "Ini sangat penting untuk memastikan bahwa ketahanan pangan terkait sawit bisa dijamin melalui perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Selain itu, minyak sawit juga untuk ketahanan energi yang menyediakan sumber energi yang terdiversifikasi untuk Indonesia," tuturnya. Tak ketinggalan, menurut bendahara negara, hilirisasi industri sawit perlu dilakukan untuk mencapai kestabilan harga CPO. Pasalnya, harga CPO seringkali bergerak fluktuasi di pasar internasional. "Kami juga ingin memastikan bahwa harga CPO stabil dan cukup dapat diprediksi, sehingga dapat menciptakan kepastian bagi kedua sisi pasokan, baik industri dan perkebunan, terutama buruh," jelasnya. Selain hilirisasi, mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu turut menyoroti perlunya peningkatan produktivitas di industri sawit. Sebab, sawit bisa menjadi substitusi energi melalui biodiesel. Harapannya, ketika produksi biodiesel meningkat, maka pemerintah bisa mengurangi impor minyak. Dengan begitu, defisit neraca perdagangan Indonesia berpotensi turun. "Ini akan mengurangi jumlah minyak mentah dan bahan bakar fosil yang saat ini terus defisit. Kami juga ingin menggunakan sawit untuk mengatasi ketergantungan pada impor minyak melalui program biodiesel," katanya. Di sisi lain, Ani memperkirakan harga CPO bisa saja meningkat lagi pada masa depan. Sebab, permintaan mulai meningkat seiring pemulihan ekonomi di banyak negara di dunia. "Ketika ekonomi global pulih dan sektor jasa meningkat, permintaan makanan dan minuman meningkat, itu akan berimplikasi pada harga CPO. Jadi ini salah satu implikasi positif dari proses pemulihan dalam perekonomian kita," pungkasnya. [Gambas:Video CNN] (uli/aud) Adblock test (Why?)

Sri Mulyani Ingin Nilai Tambah Ekonomi Sawit dari Hilirisasi Digenjot
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan pemerintah ingin meningkatkan nilai tambah ekonomi komoditas minyak sawit (crude palm oil/CPO) dengan mempercepat proses hilirisasi industri. Tujuannya, untuk memberi manfaat ekonomi yang lebih luas bagi perekonomian Indonesia."Presiden Jokowi ingin melakukan transformasi ekonomi Indonesia agar tidak hanya dihasilkan dari bahan mentah, tapi untuk meningkatkan nilai tambah, terutama melalui hilirisasi industri," ujar Ani, sapaan akrabnya di Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2021, Rabu (1/12). Saat ini, Ani mengatakan industri sawit sudah memberikan kontribusi yang besar melalui peningkatan ekspor selama pandemi covid-19. Tercatat, sumbangan ekspor dari sektor ini senilai US$21,4 miliar atau 14 persen dari total penerimaan devisa ekspor non-migas. Padahal, ekspor tersebut masih didominasi oleh bahan mentah. Dengan demikian, nilainya akan meningkat jika dilakukan hilirisasi. "Semakin hilir meningkat, nilai tambahnya semakin besar sehingga jika diekspor pastinya mendatangkan devisa yang lebih besar yang bisa dipergunakan bagi kesejahteraan Indonesia," ucapnya. Tak hanya memberi nilai ekonomi dari sisi ekspor, industri sawit juga memberi pendapatan bagi masyarakat. Tercatat, ada 4,2 juta tenaga kerja yang bekerja langsung di sektor ini dan 12 juta tenaga kerja yang bekerja secara tidak langsung. Bila hilirisasi dilakukan, maka akan membuka kesempatan kerja baru bagi masyarakat. Selain itu, hilirisasi juga perlu untuk meningkatkan diversifikasi produk turunan CPO dan meningkatkan konsumsi masyarakat. "Ini sangat penting untuk memastikan bahwa ketahanan pangan terkait sawit bisa dijamin melalui perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Selain itu, minyak sawit juga untuk ketahanan energi yang menyediakan sumber energi yang terdiversifikasi untuk Indonesia," tuturnya. Tak ketinggalan, menurut bendahara negara, hilirisasi industri sawit perlu dilakukan untuk mencapai kestabilan harga CPO. Pasalnya, harga CPO seringkali bergerak fluktuasi di pasar internasional. "Kami juga ingin memastikan bahwa harga CPO stabil dan cukup dapat diprediksi, sehingga dapat menciptakan kepastian bagi kedua sisi pasokan, baik industri dan perkebunan, terutama buruh," jelasnya. Selain hilirisasi, mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu turut menyoroti perlunya peningkatan produktivitas di industri sawit. Sebab, sawit bisa menjadi substitusi energi melalui biodiesel. Harapannya, ketika produksi biodiesel meningkat, maka pemerintah bisa mengurangi impor minyak. Dengan begitu, defisit neraca perdagangan Indonesia berpotensi turun. "Ini akan mengurangi jumlah minyak mentah dan bahan bakar fosil yang saat ini terus defisit. Kami juga ingin menggunakan sawit untuk mengatasi ketergantungan pada impor minyak melalui program biodiesel," katanya. Di sisi lain, Ani memperkirakan harga CPO bisa saja meningkat lagi pada masa depan. Sebab, permintaan mulai meningkat seiring pemulihan ekonomi di banyak negara di dunia. "Ketika ekonomi global pulih dan sektor jasa meningkat, permintaan makanan dan minuman meningkat, itu akan berimplikasi pada harga CPO. Jadi ini salah satu implikasi positif dari proses pemulihan dalam perekonomian kita," pungkasnya. [Gambas:Video CNN] (uli/aud) Adblock test (Why?)