Sritex Kembali Perpanjang Proses PKPU Hingga 25 Januari 2022

Jakarta, CNBC Indonesia - Proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang sedang dijalani oleh PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias Sritex kembali diperpanjang hingga 25 Januari 2022 mendatang. Ini merupakan keputusan dari Pengadilan Niaga Semarang. Dalam keterangan yang disampaikan perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), perpanjangan itu dilakukan untuk mengakomodasi permintaan kreditor perusahan untuk penyelesaian kewajiban perusahaan. "Pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan bahwa pada tanggal 6 Desember 2021, Pengadilan Niaga Semarang telah memutuskan untuk memperpanjang proses PKPU selama 50 haru hingga 25 Januari 2022," tulis keterbukaan informasi tersebut, Senin (6/12/2021). "Dengan diperpanjangnya proses PKPU ini, kami berharap dapat mensukseskan proses restrukturisasi dan memberikan solusi terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan." Manajemen perusahaan menjelaskan bahwa pada 2 Desember 2021 lalu direncanakan akan dilakukan pengambilan suara (voting) terhadap proposal perdamaian yang diajukan perusahaan kepada seluruh kreditornya. Namun, terdapat beberapa kreditur yang mengajukan perpanjangan PKPU tersebut. Untuk mengakomodir permintaan kreditor tersebut, perusahaan pun mengajukan perpanjangan tersebut kepada pengadilan. Sebelumnya perpanjangan PKPU juga diajukan perusahaan pada akhir September 2021 lalu. Perpanjangan yang diajukan selama 77 hari sampai dengan 6 Desember 2021. Perpanjangan PKPU ini mengingat kompleksitas proses restrukturisasi utang perusahaan. Untuk diketahui, perusahaan saat ini memiliki kewajiban yang diajukan restrukturisasinya kepada kreditor senilai Rp 20 triliun, atau tepatnya Rp 19,96 triliun. Dalam proposal perdamaian perusahaan yang diperoleh CNBC Indonesia, utang tersebut terdiri dari pinjaman bilateral senilai Rp 5,87 triliun dalam rupiah, dalam dolar Amerika Serikat sebesar US$ 178,95 juta dan dalam euro senilai € 7,5 juta. Lalu pinjaman sindikasi senilai US$ 350,02 juta dan utang obligasi global sebesar US$ 375 juta. [Gambas:Video CNBC] (mon/miq) Adblock test (Why?)

Sritex Kembali Perpanjang Proses PKPU Hingga 25 Januari 2022
Jakarta, CNBC Indonesia - Proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang sedang dijalani oleh PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias Sritex kembali diperpanjang hingga 25 Januari 2022 mendatang. Ini merupakan keputusan dari Pengadilan Niaga Semarang. Dalam keterangan yang disampaikan perusahaan di Bursa Efek Indonesia (BEI), perpanjangan itu dilakukan untuk mengakomodasi permintaan kreditor perusahan untuk penyelesaian kewajiban perusahaan. "Pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan bahwa pada tanggal 6 Desember 2021, Pengadilan Niaga Semarang telah memutuskan untuk memperpanjang proses PKPU selama 50 haru hingga 25 Januari 2022," tulis keterbukaan informasi tersebut, Senin (6/12/2021). "Dengan diperpanjangnya proses PKPU ini, kami berharap dapat mensukseskan proses restrukturisasi dan memberikan solusi terbaik bagi seluruh pemangku kepentingan." Manajemen perusahaan menjelaskan bahwa pada 2 Desember 2021 lalu direncanakan akan dilakukan pengambilan suara (voting) terhadap proposal perdamaian yang diajukan perusahaan kepada seluruh kreditornya. Namun, terdapat beberapa kreditur yang mengajukan perpanjangan PKPU tersebut. Untuk mengakomodir permintaan kreditor tersebut, perusahaan pun mengajukan perpanjangan tersebut kepada pengadilan. Sebelumnya perpanjangan PKPU juga diajukan perusahaan pada akhir September 2021 lalu. Perpanjangan yang diajukan selama 77 hari sampai dengan 6 Desember 2021. Perpanjangan PKPU ini mengingat kompleksitas proses restrukturisasi utang perusahaan. Untuk diketahui, perusahaan saat ini memiliki kewajiban yang diajukan restrukturisasinya kepada kreditor senilai Rp 20 triliun, atau tepatnya Rp 19,96 triliun. Dalam proposal perdamaian perusahaan yang diperoleh CNBC Indonesia, utang tersebut terdiri dari pinjaman bilateral senilai Rp 5,87 triliun dalam rupiah, dalam dolar Amerika Serikat sebesar US$ 178,95 juta dan dalam euro senilai € 7,5 juta. Lalu pinjaman sindikasi senilai US$ 350,02 juta dan utang obligasi global sebesar US$ 375 juta. [Gambas:Video CNBC] (mon/miq) Adblock test (Why?)