Standar Mata Uang Dalam Islam

Standar Mata Uang Dalam Islam
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Islam memberikan kebebasan manusia melakukan pertukaran menggunakan barang apapun (sistem barter) selama bukan barang haram. Namun, demi menghilangkan kesamaran dalam pertukaran komoditas, alat tukar (uang) menjadi penting untuk dipakai. Sesuai fungsinya, alat tukar apapun yang dipergunakan harus mampu menghilangkan perselisihan di antara kedua belah pihak yang melakukan pertukaran. Karena itulah, terkait dengan masalah uang sebagai alat tukar, Islam menetapkan emas dan perak sebagai standar mata uang.

Sifat emas dan perak yang nilainya lebih permanen sebagai mata uang dari masa ke masa disebabkan nilainya yang bertumpu pada zatnya, dan bukan pada pengakuan kelompok orang atau negara. Hal ini membuat mata uang emas dan perak stabil nilainya, kapan dan di mana pun, hampir tidak pernah mengalami perubahan. Sifat ini cocok untuk kriteria mata uang sebagai ukuran harga barang dan jasa, karena standar ukuran haruslah stabil dan tidak berubah-ubah (fluktuatif). (Al-Mutrik, Ar Riba wal muamalat al mashrafiyyah, hal. 106)

Tidak hanya nilainya yang stabil untuk kriteria mata uang, tetapi ada alasan lainnya yang membuat emas dan perak dijadikan sebagai standar mata uang dalam Islam, yaitu:

  1. Pada saat Islam melarang praktik penimbunan harta (kanzul mal), Islam hanya mengkhususkan larangan tersebut pada emas dan perak. Adanya larangan ini karena fungsi emas dan perak sebagai uang atau alat tukar (medium of exchange). Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak, serta tidak menafkahkannya di jalan Allah (untuk Jihad dan Dakwah), maka beritahukan kepada mereka (bahwa mereka akan mendapatkan) azab yang pedih. (QS. At-Taubah [9], Ayat 34)
  2. Islam mengkaitkan emas dan perak dengan berbagai hukum Islam lainnya, seperti diyat dan kasus pencurian. Islam menentukan  diyat (denda atau tebusan) dengan ukuran spesifik dalam bentuk emas. Begitupun sanksi potong tangan terhadap pelaku pencurian, dengan ketentuan emas, yakni ketika pencurian serta ¼ dinar lebih. Rasulullah SAW bersabda “Di dalam (pembunuhan) jiwa itu terdapat diyat berupa 100 unta dan terhadap pemilik emas (ada kewajiban) sebanyak 1.000 dinar” (HR. An-Nasa’I no.4770, dan Ibnu Hibban no.6677). Tangan itu wajib dipotong, dalam kasus pencurian ¼ dinar atau lebih (HR. Al-Bukhari no.6291, dan Muslim no.3191).
  3. Zakat uang yang ditentukan Allah SWT berkaitan dengan emas dan perak. Nisab zakat tersebut pun dengan emas dan perak.
  4. Rasulullah SAW menetapkan emas dan perak sebagai uang sekaligus sebagai standar uang yang dimana setiap standar barang serta tenaga yang ditransaksikan akan senantiasa dikembalikan kepada standar tersebut.
  5. Hukum tentang pertukaran mata uang (sharf) dalam Islam, yang terjadi dalam transaksi uang, hanya merujuk pada emas dan perak bukan dengan yang lain. Hal ini bukti yang tegas, uang tersebut harus berupa emas dan perak, bukan yang lain. Rasulullah SAW bersabda “Emas (ditukar) dengan uang bisa riba, kecuali setelah terjadi serah terima” (HR. Abu Dawud no.2906 dan At-Tirmidzi no.1164).