Suara Rakyat dalam Menuangkan Aspirasi Tidak Hanya Dengan Demonstrasi Saja

Suara Rakyat dalam Menuangkan Aspirasi Tidak Hanya Dengan Demonstrasi Saja
https://www.freepik.com/free-vector/illustration-woman-with-megaphone-screaming_7259738.htm

Suara Rakyat.

2020 Dunia semakin ingar, di tengah wabah Covid-19 ini pergolakan politik semakin menjadi-jadi. Ditambah pengesahan UU Ciptaker yang mengundang kontroversi dari berbagai pihak karena dianggap hanya menguntungkan pihak para investor saja. Turun ke jalan menjadi pilihan untuk kembali menyuarakan hak-hak keadilan. Setelah baru setahun lalu revisi UU KPK dan RKUHP yang dinilai berbelok dari amanat reformasi, UU ciptaker pun menjadi sumbu dari adanya lautan api di Jakarta pada awal Oktober kemarin.

Tak ter-elakkan ratusan bahkan ribuan mahasiswa dan buruh pun turut menyampaikan aspirasi dengan aksi demonstrasi menuntut keadilan. Tidak hanya di Jakarta, mahasiswa di beberapa daerah juga melakukan demonstrasi. Sebenarnya bukan perlawanan yang rakyat inginkan, kesejahteraanlah yang rakyat dambakan. Namun ketika aspirasi tidak lagi didengar dan dihiraukan maka suara-suara rakyat akan berubah menjadi suara-suara perlawanan.

Melihat mahasiswa dan rakyat yang berkoar, teringat kembali demonstrasi yang terjadi pada masa rezim Soeharto. 12 Mei 1998, kerusuhan bergejolak. Ratusan pertokoan dan kendaraan dijarah dan dibakar massa. Mahasiswa dari berbagai titik berkumpul untuk bersatu mengkritik dan mendesak presiden agar turun dari kepemerintahan, lagu-lagu perjuangan pun turut dinyanyikan sebagai simbol semangat mereka. Hampir semua jalan di blokade, 18 Mei 1998 gedung MPR/DPR berhasil dijebol dan diduduki hingga akhirnya pad 21 Mei 1998 presiden Soeharto menyatakan atas pengunduran dirinya dari jabatan presiden dan suara kemenangan rakyat terdengar dari segala penjuru.

Kerusuhan yang terjadi pada masa rezim Soeharto ini dikarenakan krisisnya perekonomian pada saat itu. Menyebabkan banyak orang di PHK dari perusahaan, kebutuhan pokok makin sulit didapatkan dan kelaparan merajalela. Sumbu terjadinya aksi massa pada awal Oktober kemarin hampir sama dengan kerusuhan pada tahun 1998. Bedanya kerusuhan rezim Soeharto karena krisis ekonomi yang sangat parah, sedangkan pada awal Oktober kemarin sebab pengesahan UU Ciptakerja yang ditolak dari berbagai pihak karena dianggap hanya menguntungkan sebelah pihak saja yang nantinya akan menyengsarakan rakyat.

Negara kita adalah negara demokrasi, semua orang berhak menuangkan aspirasi. Bahkan kabarnya pengurus MUI dan BEM SI pun angkat bicara mengenai UU Ciptaker yang sudah disahkan ini, agar bapak presiden mengeluarkan Perppu. Namun, sampai saat ini tidak membatalkan UU tersebut.

Adanya berbagai aksi dari masyarakat setempat maupun buruh dan mahasiswa disetiap demosntrasi merupakan suara nurani rakyat, suara aspirasi masyarakat. Memang tidak semua kenyataan begitu juga sebuah keputusan dapat diterima dengan lapang dada. Namun, bisa saja dari suatu keputusan yang telah disahkan membawa kesejahteraan yang tidak kita ketahui kedepannya. Sering kali emosi yang bersulut-sulut datang karena berita yang belum tentu benar akan kebenarannya, seketika emosi memuncak dan hal ini lah yang memancing terjadinya kerusuhan dimana-mana.

Di dunia ini, tidak ada pemimpin yang ingin menyengsarakan rakyatnya, apalagi membuat rakyatnya kelaparan. Setiap pemimpin pasti ingin melakukan yang terbaik untuk negara yang dipimpinnya. Namun pemimpin juga manusia dan setiap manusia pasti pernah salah dalam mengambil keputusan. Negara kita demokrasi dan siapa saja boleh beraspirasi, mengkritik dan menanggapi apa yang pimpinannya putuskan.

Awal oktober kemarin memang sempat terjadi penolakan yang mengakibatkan kerusuhan dimana-mana. Namun saat ini dapat kita lihat setelah pengesahan UU Ciptakerja, banpres (bantuan presiden) berupa UMKM disalurkan oleh pemerintah, gunanya untuk memajukan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya. Dengan bantuan seperti ini pemerintah sudah membantu sebagian masyarakat untuk mendapatkan hidup yang sejahtera. Untuk itu, dalam menanggapi berita tentang apapun haruslah disaring dengan benar, jangan karna berita yang baru saja didapat langsung dipercayai sepenuhnya. Ini yang masih menjadi PR untuk kita semua sebagai masyarakat dalam menanggapi suatu berita tentang benar dan tidaknya.

Menuangkan aspirasi tidak hanya dengan demonstrasi saja, menulis misalnya, apalagi muda-mudi yang melek teknologi. Kegiatan menulis ini dapat menjadi salah satu pilihan dalam menuangkan pendapat, mengkritik atau berbagi informasi. Sering kali waktu terbuang dengan hal yang kurang bermutu dan ini saatnya untuk membuat waktu menjadi lebih bermutu.