Suplai Gizi Melalui Keprihatinan

Suplai Gizi Melalui Keprihatinan
Keprihatinan adalah Gizi

Konon, para orang tua zaman dahulu memberikan air tajin – air rebusan beras yang dibuat agak mengental – kepada bayi-bayinya sebagai pengganti susu. Ternyata, hal ini bukan isapan jempol belaka. Kakek nenek saya mengalaminya. Bahkan orang tua saya pun demikian. Selain mengandung nutrisi, air tajin juga sangat ekonomis.

Belakangan, saya baru tahu bahwa air tajin tidak terlalu dianjurkan sebagai pengganti utama ASI (Air Susu Ibu). Dikutip dari detikfood, air ini banyak mengandung karbohidrat tinggi. Selain itu, terdapat kandungan mineral, vitamin B1, lemak, protein serta zat besi. Namun, air tajin baiknya diberikan ketika bayi berusia 8 bulanan sebagai makanan pendamping saja.

Meski demikian, tidak ada orang tua yang dengan sengaja memberi air tajin pada bayinya. Kondisi ekonomi mengharuskan kakek nenek saya bahkan orang tua saya, hidup serba kekurangan. Untuk menambal kekurangan tersebut, muncullah alternatif-alternatif yang “dianggap” baik. Untunglah, hidup dengan keprihatinan yang demikian menjadikan para pendahulu tetap kuat dan tidak apa-apa.

Mereka tetap hidup bahagia. Bahkan tidak mengganggap itu sebagai sebuah penderitaan. Kalaulah itu disebut penderitaan, tidak pantas rasanya. Sebab banyak orang di luar sana yang mengalami gizi buruk hingga busung lapar. Mereka tak ubahnya sedang ditempa sehingga beban-beban keprihatinan itu menjelma sebagai kenangan yang syarat akan gizi seimbang.

Meski saya tidak pernah merasakan pengalaman minum tajin, pengalaman-pengalaman masa kecil saya pun cukup kaya akan gizi. Saya teringat kembali akan kenangan dua puluh tahun silam. Saat itu, saya meyakini bahwa gizi terbaik terdapat dalam kandungan makanan 4 sehat 5 sempurna. Anda pasti sudah mengenal komponen 4 sehat 5 sempurna, yakni ada nasi, sayur, lauk-pauk, buah dan susu. Ada satu komponen yang kurang dari “gizi” saya saat itu, yakni 5 sempurna (susu).

Sejak guru saya menerangkan tentang pelajaran makanan bergizi, saya jadi terngiang-ngiang untuk meminta dibelikan susu. Namun, Bapak saya selalu menolak membelikan. Tentu saja saya kecewa. Bukan karena saya merasa gizi terbaik belum diberikan bapak. Bukan. Melainkan lebih kepada iri dengan teman-teman. Alih-alih khawatir kekurangan gizi, keinginan saya untuk dibelikan susu memang cenderung karena iri melihat teman-teman.

Mereka bisa minum susu, sedangkan saya harus puas dengan cukup minum air putih. Sesekali minum es teh manis. Sehingga, tubuh saya terlatih lebih fleksibel dalam mengasup makanan dan minuman selama tergolong jenis yang bisa dimakan atau diminum. Pernah saya mendapati sebuah artikel yang menyebutkan bahwa ada beberapa orang di dunia ini yang tidak minum air putih bahkan cenderung membencinya. Dalam alam bawah sadarnya, minum air putih serasa minum air logam. Kotor dan berkarat.

Bayangkan apabila saya berada di posisi orang tersbut. Serepot apa nanti orang tua saya dalam memberi perawatan? Di kemudian hari, bekal-bekal keprihatinan yang saya dapatkan sewaktu kecil ternyata sangat membantu. Ada ruang-ruang dimana saya tidak perlu mengerahkan segala upaya untuk melakukan sesuatu. Namun, teman saya harus mengeluarkan upaya lebih dalam meraih sesuatu yang sama seperti yang saya dapatkan. Begitu pun sebaliknya.

Saya misalnya, terbiasa jauh dari orang tua. Ketika merantau untuk melanjutkan kuliah, terpisah dengan orang tua bukan sebuah masalah. Beda dengan salah satu teman asrama. Jelang seminggu di perantauan, terpisah dari orang tua merupakan beban hidup yang sangat berat. Tiada hari tanpa menangis karena ingin pulang. Tentu saja, di asrama ada larangan ketat untuk bepergian.

Namun, ada satu kondisi dimana teman saya sangat lihai dalam statistika dan perhitungan angka-angka. Sedang ketika menghadapi angka-angka, itu menjadi awal “siksaan” bagi saya. Melihatnya, saya selalu tidak tahan. Meski demikian, harus saya hadapi karena itu bagian dari kuliah saya. Tentunya, menjadi bagian dari hidup saya.

Saya hanya perlu bertahan dan membiasakan diri dengan statistika dan angka-angka. Toh, saya sudah memiliki skill hidup prihatin sejak dini. Membiasakan diri dengan sesuatu yang kurang nyaman bagi hidup, sudah bukan perkara asing lagi. Saya hanya perlu mensugesti diri supaya tetap bahagia dan tidak apa-apa. Ini adalah beban yang akan bertransformasi menjadi sebuah gizi.

Laku-laku keprihatinan ini tentu dialamai semua orang hidup. Namun, tidak semua menyadarinya. Sebab, keprihatinan identik dengan kesusahan dan kesedihan. Bahkan sebagian besar orang cenderung menghindari menjalani hidup dalam keprihatinan. Meski demikian, manusia tidak bisa terhindar dari hidup prihatin. Tidak percaya?

***

Sejumlah selebriti tanah air pun turut merasakan keprihatinan. Siapa yang tidak kenal Raffi Ahmad? Selebriti papan atas yang dijuluki Sultan Andara dengan banyak kesibukan kerja. Mulai dari penyanyi, host, bintang iklan, pengusaha hingga youtuber sukses. Semua hal ini melekat dalam diri Raffi Ahmad.

Padatnya aktifitas Raffi, tentu membuatnya harus prihatin dalam hal waktu tidur. Dalam sehari, ia bisa tidur sekitar 4 jam saja. Kesibukan Raffi yang menggila, membuat sejumlah masyarakat tanah air pun enggan untuk menjadi selebriti. Barangkali, kita sudah sering mendengar, tidur merupakan salah satu kemewahan bagi sejumlah artis yang padat jadwal syutingnya. Ada yang hanya tidur dua jam per hari, bahkan harus mencuri-curi waktu tidur di tengah istirahat syuting yang singkat.

Meski ada keluhan, toh mereka tetap eksis di dunia hiburan. Lelah karena kesibukan sudah menjadi hal wajar. Bahkan ketika dilakukan berulang-ulang, sudah tidak terasa memikul sebuah beban. Beban-beban itu telah terakumulasi dan menjadi sugesti yang mendatangkan gizi.

Pada dasarnya, kita ini selalu hidup dalam “keprihatinan”. Bagi pejabat Anu yang tidak suka menunggu, diharuskan menunggu merupakan keprihatinan. Bagi yang tidak pernah naik tangga dalam gedung, melangkahkan kaki tahap demi tahap merupakan keprihatinan. Bahkan bagi pasien covid yang harus menjaga jarak, tidak melakukan kontak fisik merupakan keprihatinan. Demi apa? Ya demi tidak menularkan virus kepada orang terdekat. Barangkali, keprihatinan menjadi suplai gizi untuk dapat meningkatkan kualitas hidup. Keprihatinan dapat menjadikan setiap momen yang kita jalani menjadi lebih baik.