Tak Perlu Khawatir dengan Efikasi Vaksin Sinovac

Awal pekan kedua tahun 2021, kabar baik mengenai vaksinasi Covid-19 di Indonesia datang. Senin (11/1), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat vaksin virus corona buatan Sinovac.Langkah ini langsung dilanjutkan dengan dimulainya proses vaksinasi perdana di Indonesia yang dilakukan dua hari kemudian, Rabu (13/1). Banyak pihak yang menyambut positif hal ini karena dianggap sebagai salah satu solusi dalam menghadapi pandemi Covid-19. Namun di lain sisi tidak sedikit juga yang masih ragu dengan khasiat vaksin ini.Efikasi vaksin Sinovac dinyatakan sekitar 65,3 persen di Indonesia. Angkanya di atas standar minimal yang ditetapkan WHO, 50 persen dan juga lebih tinggi dari efikasi di Brazil (50,4 persen), meski nilainya lebih rendah daripada efikasi di Turki (91,25 persen).Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt, menjabarkan efikasi sebagai kemampuan suatu vaksin untuk mencegah penyakit dalam keadaan ideal dan terkontrol. Lebih lanjut, Ketua Program Studi Doktor Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjelaskan perhitungan efikasi dilakukan dengan membandingkan kelompok yang divaksin dengan yang tidak divaksin.“Vaksin dengan efikasi atau kemanjuran 65,3 persen dalam uji klinik berarti, terjadi penurunan 65,3 persen kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan plasebo (vaksin kosong),” kata Zullies dalam keterangan resminya.Dia mengambil contoh uji klinik Vaksin Sinovac di Bandung yang melibatkan 1.600 orang , terdapat 800 subyek yang menerima vaksin, dan 800 subyek yang mendapatkan plasebo. Jika dari kelompok yang divaksin ada 26 yang terinfeksi (3.25 persen), sedangkan dari kelompok plasebo ada 75 kasus penyakit  (9.4 persen), maka efikasi dari vaksin dapat dihitung  (0.094 – 0.0325)/0.094 x 100 persen = 65.3 persen.Sementara itu menurut Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe menilai Vaksin Sinovac dapat memberi proteksi lebih. "Maknanya, orang yang divaksinasi berisiko hampir tiga kali lebih rendah untuk mengalami Covid-19 yang bergejala," ujar dokter yang juga pendiri @imuni.id ini.Permasalahan Angka Efikasi Seperti yang disebutkan sebelumnya angka efikasi Vaksin Sinovac di Indonesia memang lebih kecil jika dibandingkan di Turki. Selain itu jika dibandingkan dengan Vaksin Pfizer dan Moderna yang punya klaim efikasi sampai 94-95 persen, tentu menimbulkan keraguan.“Ketika tadi diumumkan hasil efikasi vaksin Sinovac sebesar 65.3%, mungkin ada yang kecewa, ‘kenapa kok rendah?’, tapi menurut saya ini awal yang baik. Apalagi batasan minimal FDA, WHO, dan EMA untuk persetujuan vaksin itu 50 persen,” ujar Zullies lagi.Selain itu dia juga menjelaskan Efikasi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat risiko infeksi tempat uji,  karakteristik subyek ujinya, dan pola kesehatan masyarakat.  Senada dengan Zullies, Associate Professor Universiti Putra Malaysia Bimo Ario Tejo berpendapat nilai efikasi Vaksin Sinovac tidak lantas menjadi masalah.“Kenapa orang tiba-tiba mempermasalahkan efikasi 65 persen, sedangkan vaksin influenza yang efikasinya 44 persen tidak penah dipermasalahkan? Orang hanya melihat dan membandingkan angka efikasi tanpa memahami maknanya," ujar Bimo dikutip dari Narasi.Dia juga menyebut terdapat protokol uji klinis yang berbeda di tiap negara yang melaksanakan pengetesan efikasi vaksin. Kenapa orang tiba-tiba mempermaslahkan efikasi 65 persen, sedangkan vaksin influenza yang efikasinya 44 persen tidak penah dipermasalahkan? Orang hanya melihat dan membandingkan angka efikasi tanpa memahami maknanya," kata Bimo lagi.Selain soal efikasi, Zullies juga menekankan soal khasiat lain vaksin yakni imunogenitas. “Apalagi disampaikan juga tadi bahwa vaksin memiliki imunogenisitas yang tinggi dengan angka seropositive mencapai 99,23 % pada tiga bulan pertama, yang berarti dapat memicu antibodi pada subyek yang mendapat vaksin.”Dia menambahkan penurunan kejadian infeksi sekitar 65 persen terhadap populasi tentu akan sangat bermakna dan memiliki dampak berganda. “Katakanlah dari 100 juta penduduk Indonesia, jika tanpa vaksinasi ada 8,6 juta yang bisa terinfeksi, jika turun 65 persen dengan vaksinasi, maka hanya 3 juta penduduk yang terinfeksi, selisih 5,6 juta,” kata Zullies.Selain menyelamatkan jutaan jiwa, vaksinasi juga mencegah penggunaan fasilitas perawatan kesehatan dalam jumlah besar. Belum lagi secara tidak langsung bisa mencegah penularan lebih jauh bagi orang-orang yang tidak mendapatkan vaksin, ini dapat mencapai kekebalan komunal atau herd immunity.Vaksinasi secara umum dinilai dapat mengurangi angka penularan Covid-19 di Indonesia. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan protokol kesehatan. Mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak serta menjauhi kerumunan alias Gerakan 3M perlu tetap penting diaplikasikan setidaknya sampai mayoritas kelompok masyarakat terlindungi. Let's block ads! (Why?)

Tak Perlu Khawatir dengan Efikasi Vaksin Sinovac

Awal pekan kedua tahun 2021, kabar baik mengenai vaksinasi Covid-19 di Indonesia datang. Senin (11/1), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menerbitkan izin penggunaan darurat vaksin virus corona buatan Sinovac.

Langkah ini langsung dilanjutkan dengan dimulainya proses vaksinasi perdana di Indonesia yang dilakukan dua hari kemudian, Rabu (13/1). Banyak pihak yang menyambut positif hal ini karena dianggap sebagai salah satu solusi dalam menghadapi pandemi Covid-19. Namun di lain sisi tidak sedikit juga yang masih ragu dengan khasiat vaksin ini.

Efikasi vaksin Sinovac dinyatakan sekitar 65,3 persen di Indonesia. Angkanya di atas standar minimal yang ditetapkan WHO, 50 persen dan juga lebih tinggi dari efikasi di Brazil (50,4 persen), meski nilainya lebih rendah daripada efikasi di Turki (91,25 persen).

Prof. Dr. Zullies Ikawati, Apt, menjabarkan efikasi sebagai kemampuan suatu vaksin untuk mencegah penyakit dalam keadaan ideal dan terkontrol. Lebih lanjut, Ketua Program Studi Doktor Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) ini menjelaskan perhitungan efikasi dilakukan dengan membandingkan kelompok yang divaksin dengan yang tidak divaksin.

“Vaksin dengan efikasi atau kemanjuran 65,3 persen dalam uji klinik berarti, terjadi penurunan 65,3 persen kasus penyakit pada kelompok yang divaksinasi dibandingkan dengan kelompok yang mendapatkan plasebo (vaksin kosong),” kata Zullies dalam keterangan resminya.

Dia mengambil contoh uji klinik Vaksin Sinovac di Bandung yang melibatkan 1.600 orang , terdapat 800 subyek yang menerima vaksin, dan 800 subyek yang mendapatkan plasebo. Jika dari kelompok yang divaksin ada 26 yang terinfeksi (3.25 persen), sedangkan dari kelompok plasebo ada 75 kasus penyakit  (9.4 persen), maka efikasi dari vaksin dapat dihitung  (0.094 – 0.0325)/0.094 x 100 persen = 65.3 persen.

Infografik_Memahami efikasi vaksin

Sementara itu menurut Vaksinolog dr. Dirga Sakti Rambe menilai Vaksin Sinovac dapat memberi proteksi lebih. "Maknanya, orang yang divaksinasi berisiko hampir tiga kali lebih rendah untuk mengalami Covid-19 yang bergejala," ujar dokter yang juga pendiri @imuni.id ini.

Permasalahan Angka Efikasi

Seperti yang disebutkan sebelumnya angka efikasi Vaksin Sinovac di Indonesia memang lebih kecil jika dibandingkan di Turki. Selain itu jika dibandingkan dengan Vaksin Pfizer dan Moderna yang punya klaim efikasi sampai 94-95 persen, tentu menimbulkan keraguan.

“Ketika tadi diumumkan hasil efikasi vaksin Sinovac sebesar 65.3%, mungkin ada yang kecewa, ‘kenapa kok rendah?’, tapi menurut saya ini awal yang baik. Apalagi batasan minimal FDA, WHO, dan EMA untuk persetujuan vaksin itu 50 persen,” ujar Zullies lagi.

Selain itu dia juga menjelaskan Efikasi dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti tingkat risiko infeksi tempat uji,  karakteristik subyek ujinya, dan pola kesehatan masyarakat.  

Senada dengan Zullies, Associate Professor Universiti Putra Malaysia Bimo Ario Tejo berpendapat nilai efikasi Vaksin Sinovac tidak lantas menjadi masalah.

“Kenapa orang tiba-tiba mempermasalahkan efikasi 65 persen, sedangkan vaksin influenza yang efikasinya 44 persen tidak penah dipermasalahkan? Orang hanya melihat dan membandingkan angka efikasi tanpa memahami maknanya," ujar Bimo dikutip dari Narasi.

Dia juga menyebut terdapat protokol uji klinis yang berbeda di tiap negara yang melaksanakan pengetesan efikasi vaksin. Kenapa orang tiba-tiba mempermaslahkan efikasi 65 persen, sedangkan vaksin influenza yang efikasinya 44 persen tidak penah dipermasalahkan? Orang hanya melihat dan membandingkan angka efikasi tanpa memahami maknanya," kata Bimo lagi.

Selain soal efikasi, Zullies juga menekankan soal khasiat lain vaksin yakni imunogenitas. “Apalagi disampaikan juga tadi bahwa vaksin memiliki imunogenisitas yang tinggi dengan angka seropositive mencapai 99,23 % pada tiga bulan pertama, yang berarti dapat memicu antibodi pada subyek yang mendapat vaksin.”

Dia menambahkan penurunan kejadian infeksi sekitar 65 persen terhadap populasi tentu akan sangat bermakna dan memiliki dampak berganda. “Katakanlah dari 100 juta penduduk Indonesia, jika tanpa vaksinasi ada 8,6 juta yang bisa terinfeksi, jika turun 65 persen dengan vaksinasi, maka hanya 3 juta penduduk yang terinfeksi, selisih 5,6 juta,” kata Zullies.

Selain menyelamatkan jutaan jiwa, vaksinasi juga mencegah penggunaan fasilitas perawatan kesehatan dalam jumlah besar. Belum lagi secara tidak langsung bisa mencegah penularan lebih jauh bagi orang-orang yang tidak mendapatkan vaksin, ini dapat mencapai kekebalan komunal atau herd immunity.

Vaksinasi secara umum dinilai dapat mengurangi angka penularan Covid-19 di Indonesia. Namun yang tidak kalah pentingnya adalah penerapan protokol kesehatan. Mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak serta menjauhi kerumunan alias Gerakan 3M perlu tetap penting diaplikasikan setidaknya sampai mayoritas kelompok masyarakat terlindungi.

Let's block ads! (Why?)