Taufiq: Bangga sebagai Garbage Designer

NARASUMBER Kick Andy lainnya juga seorang pria yang piawai mengubah sampah plastik menjadi karya seni tinggi. Dialah Muhammad Taufiq Shaleh Saguanto yang karyanya berupa aneka miniatur alat transportasi dan aneka ragam patung. "Saya menyebut diri saya sebagai Garbage Desainer, kerjaan ini mungkin sekarang orang masih asing mendengarnya, ya, tapi bagi saya ini merupakan pekerjaan masa depan," ujar pria yang akrab disapa Taufiq saat hadir di Kick Andy. Pemikiran soal pekerjaan masa depan itu lahir dari kesadarannya akan volume sampah, khususnya anorganik, yang terus meningkat. Karena itu, dibutuhkan orang-orang yang bisa mengolah sampah menjadi barang baru dan bukan hanya pengolahan kembali menjadi bahan baku industri. Baginya, orang-orang seperti itu tidak hanya dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan lingkungan, tetapi juga dapat meraih pendapatan tinggi. "Pekerjaan ini sebenarnya akan dibutuhkan ketika sampah nanti sudah mencemari penuh lingkungan kita. Siapa pun yang nanti bisa mendesainnya menjadi sesuatu yang baru, maka dia akan bukan hanya menjadi seorang 'hero' ya, tetapi dia juga akan menjadi orang paling kaya di dunia nanti," tutur pria 41 tahun ini.Sebelum berkutat dengan sampah plastik, Taufiq mengaku pada akhir 90-an, ia merupakan seorang pengusaha properti. Ia lalu mengalami kebangkrutan parah akibat ditipu orang. Ayah Taufiq yang juga merupakan pengusaha dan mentor bisnisnya tidak mau membantu. Tidak ingin menyerah, Taufiq mencoba mengolah sampah. "Saya itu kan anak pengusaha, sejak kecil sudah dikasih mental wirausaha, tapi karena saat itu enggak punya modal sama sekali, maka modal yang gratis, ya sampah buat saya, itu pilihannya waktu itu," jelas Taufiq yang belakangan baru menyadari jika sikap ayahnya tidak memberi modal merupakan cara menempanya agar kuat. Taufiq pun bersyukur mendapat pelajaran sangat berharga. Itu karena kesuksesan bisnis tidak mesti tergantung modal uang. "Mainset bisnis kebanyakan orang Indonesia itu adalah cari modal, kalau enggak ada modal, dia berhenti. Kalau saya fokus di membuat produk dengan tangan saya sendiri, ketika produknya jadi dan makin bagus, lama-lama kita tidak butuh modal uang lagi. Nanti uang akan datang dengan sendirinya, bahkan memohon-mohon," tuturnya. Kini, keunggulan karya seni Taufiq sudah terbukti dengan klien lintas negara, bahkan hingga Kanada. Produknya pun dihargai jutaan rupiah. (Bus/M-1) Let's block ads! (Why?)

 Taufiq: Bangga sebagai Garbage Designer

NARASUMBER Kick Andy lainnya juga seorang pria yang piawai mengubah sampah plastik menjadi karya seni tinggi. Dialah Muhammad Taufiq Shaleh Saguanto yang karyanya berupa aneka miniatur alat transportasi dan aneka ragam patung.

"Saya menyebut diri saya sebagai Garbage Desainer, kerjaan ini mungkin sekarang orang masih asing mendengarnya, ya, tapi bagi saya ini merupakan pekerjaan masa depan," ujar pria yang akrab disapa Taufiq saat hadir di Kick Andy.

Pemikiran soal pekerjaan masa depan itu lahir dari kesadarannya akan volume sampah, khususnya anorganik, yang terus meningkat. Karena itu, dibutuhkan orang-orang yang bisa mengolah sampah menjadi barang baru dan bukan hanya pengolahan kembali menjadi bahan baku industri.

Baginya, orang-orang seperti itu tidak hanya dapat memberikan manfaat besar bagi masyarakat dan lingkungan, tetapi juga dapat meraih pendapatan tinggi. "Pekerjaan ini sebenarnya akan dibutuhkan ketika sampah nanti sudah mencemari penuh lingkungan kita. Siapa pun yang nanti bisa mendesainnya menjadi sesuatu yang baru, maka dia akan bukan hanya menjadi seorang 'hero' ya, tetapi dia juga akan menjadi orang paling kaya di dunia nanti," tutur pria 41 tahun ini.
Sebelum berkutat dengan sampah plastik, Taufiq mengaku pada akhir 90-an, ia merupakan seorang pengusaha properti. Ia lalu mengalami kebangkrutan parah akibat ditipu orang.

Ayah Taufiq yang juga merupakan pengusaha dan mentor bisnisnya tidak mau membantu. Tidak ingin menyerah, Taufiq mencoba mengolah sampah. "Saya itu kan anak pengusaha, sejak kecil sudah dikasih mental wirausaha, tapi karena saat itu enggak punya modal sama sekali, maka modal yang gratis, ya sampah buat saya, itu pilihannya waktu itu," jelas Taufiq yang belakangan baru menyadari jika sikap ayahnya tidak memberi modal merupakan cara menempanya agar kuat.

Taufiq pun bersyukur mendapat pelajaran sangat berharga. Itu karena kesuksesan bisnis tidak mesti tergantung modal uang. "Mainset bisnis kebanyakan orang Indonesia itu adalah cari modal, kalau enggak ada modal, dia berhenti. Kalau saya fokus di membuat produk dengan tangan saya sendiri, ketika produknya jadi dan makin bagus, lama-lama kita tidak butuh modal uang lagi. Nanti uang akan datang dengan sendirinya, bahkan memohon-mohon," tuturnya.

Kini, keunggulan karya seni Taufiq sudah terbukti dengan klien lintas negara, bahkan hingga Kanada. Produknya pun dihargai jutaan rupiah. (Bus/M-1)

Let's block ads! (Why?)