Terhanyut Dalam Kebingungan

Terhanyut Dalam Kebingungan

Pernahkah anda berpikir tentang diri anda? Seperti, sudahkah mengenali jati diri anda yang sebenarnya? Karakteristik dan kualitas seperti apa yang dimiliki? Adakah yang berubah dalam beberapa tahun terakhir? Bagaimana hal ini dapat mengubah saya? Bagaimana saya menghadapinya? Apa minat, passion, dan hobi saya? Apakah kita melakukan apa yang kita suka? Jika tidak, mengapa? Apa yang membuat saya bahagia? Apa yang membuat saya merasa bermakna? Lalu, mengapa akhir-akhir ini masih marak adanya krisis identitas? Sebenarnya krisis identitas sudah ada sejak masa Perang Dunia II. Menurut Erikson (dalam Miller 2011), bahwa krisis identitas merupakan masalah pada zaman ini. Lalu, krisis identitas dapat disebabkan oleh tekanan hidup yang mengakibatkan stres atau depresi, baik karena masalah di rumah dengan orang tua, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang dicintai, atau peristiwa traumatis lainnya. Kesemua masalah tersebut sedikit banyak dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari, yang memengaruhi cara anda melihat dan menilai diri sendiri.

Menurut Erikson (dalam Miller 2011), bahwa kehidupan  terdiri dari delapan tahap , masing-masing dengan tantangan atau krisis psikologis unik yang harus diselesaikan, seperti krisis identitas pada masa remaja yang merupakan tahap perkembangan manusia yang paling rawan. Remaja merupakan tahap peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada masa remaja seorang individu tidak lagi tergantung kepada orang tuanya. Remaja sudah mulai berhubungan dengan lingkungan sosialnya khususnya teman sebaya. Dengan  demikian remaja dalam pencarian identitasnya juga dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya khususnya teman sebaya. Proses pencarian dan peneguhan identitas atau jati diri selalu tidak pernah mudah. Dalam perjalanan mencari identitas itu, remaja kerap dihadapkan pada pilihan-pilihan pelik. Bahkan tidak jarang, di dalamnya terjadi semacam pertukaran dan negosiasi identitas yang dinamis alias tidak tetap.

Dalam konteks inilah kita kerap melihat fenomena remaja yang mudah ikut tren atau gaya yang tengah menjadi arus utama (mainstream). Bagi remaja, melibatkan diri menjadi bagian dari tren arus utama adalah bagian penting dari proses pencarian dan peneguhan identitas. Kepiawaian remaja bernegosiasi dengan diri sendiri dan lingkungannya akan menjadikan masa remaja berlalu tanpa guncangan psikologis yang berarti. Namun sebaliknya, guncangan-guncangan psikologis yang dialami remaja rentan melatari munculnya krisis identitas yang kerap kali melatari munculnya berbagai perilaku menyimpang. Jati diri pun terkadang terseret arus tren yang marak terjadi.

Maka dari itu mereka yang gagal mengatasi krisis identitas akan terhanyut didalam kebingungan dan tidak mampu membuat keputusan. Seperti fenomena mabuk air rebusan pembalut wanita di kalangan remaja di sejumlah daerah yang ramai diwartakan media sepekan terakhir ini, benar-benar mengusik nalar kewarasan berpikir kita. Perilaku tersebut tidak hanya ganjil, namun juga absurd dan sukar dinalar dengan akal sehat. Beberapa bulan lalu kita dibuat geleng-geleng kepala menyaksikan fenomena miras oplosan yang menewaskan lebih dari 80 orang. Miras oplosan yang diracik dari campuran methanol-alkohol murni yang sedianya diperuntukkan sebagai campuran bahan bakar dan cairan pelarut- dan krim oles anti nyamuk menjadi malaikat maut bagi puluhan nyawa. Namun, peristiwa tragis tersebut agaknya tidak cukup menjadi bahan pelajaran bagi sebagian masyarakat. Kemunculan tren mabuk dengan meminum air rebusan pembalut wanita itu tidak diragukan menjadi semacam penanda adanya persoalan terkait kondisi psikologis, terutama di kalangan kelompok remaja.

 

Referensi:

Afrilia, D. (2018). Mengenali krisis identitas pada orang dewasa. Diakses pada tanggal 12 Maret 2019 melalui https://beritagar.id/artikel/gaya-hidup/mengenali-krisis-identitas-pada-orang-dewasa

Miller, P. (2011). Theories of developmental psychology. New York, NY: Worth Publishers.

Ratriyanti, D. (2018). Remaja, pencarian identitas dan regresi social. Diakses pada tanggal 10 Maret 2019 melalui https://beritagar.id/artikel/telatah/remaja-pencarian-identitas-dan-regresi-sosial

Suharto, M. P., Mulyana, N., & Nurwati, N. (2018). Pengaruh teman sebaya terhadap perkembangan psikososial anak tki di kabupaten indramayu. Jurnal Pekerjaan Sosial, Vol. 1 No: 2. Diakses pada tanggal 10 Maret 2019 melalui http://jurnal.unpad.ac.id/focus/article/view/18278