Tes IQ Tidak Mengukur Kecerdasan Anak

Tes IQ Tidak Mengukur Kecerdasan Anak
from: SehatQ
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Tes IQ Tidak Mengukur Kecerdasan Anak

Oleh

Tiara Tiani Putri

Fakultas Psikologi, Universitas Pembangunan Jaya

 

Siapa yang tidak ingin memiliki anak yang pintar? Pastinya kebanyakan orang tua ingin sekali memiliki anak yang memiliki IQ tinggi, berarti dianggapnya anak tersebut pintar dan jenius.

Faktor yang penting dalam dunia pendidikan sekarang adalah mampu menyelesaikan masalah dan memberi respon dengan cepat dalam mengalami kesulitan dalam proses belajar, seperti dalam soal matematika yang sulit dan banyak teka-tekinya. Bahkan banyak yang berpendapat bahwa Intelegensi sangat penting karena dapat memberikan pengaruh yang besar dalam prestasi belajar anak. Maka dari itu, beberapa sekolah di Indonesia menerapkan sistem tes IQ untuk prasyarat seleksi masuk ke sekolah. Tes IQ bertujuan agar mengetahui taraf kecerdasan seseorang dengan nilai yang diperoleh dari sebuah alat tes. Terdapat macam-macam tes IQ dari pertanyaan tertulis maupun pertanyaan gambar.

Banyak sekali orang tua yang mencirikan anak pintar lewat nilai akademik yang bagus. Bukan hanya itu saja, masih banyak orang yang menyatakan bahwa memiliki skor IQ (Intelligence Quotient) tinggi merupakan salah satu ciri anak yang cerdas. Menurut David Wescler pengertian kecerdasan sebagai suatu kapasitas umum dari individu untuk bertindak, berpikir rasional dan berinteraksi dengan lingkungan secara efektif (Syaiful Sagala, 2010: 82). Sehingga dapat diartikan pula bahwa kecerdasan atau Intelligensi adalah kemampuan untuk menguasai kemampuan tertentu.

Tetapi IQ yang tinggi tidak berpengaruh pada kecerdasan seseorang. Hal ini terungkap dalam sebuah makalah yang ditulis Heckman dalam Prosiding National Academy of Sciences bulan lalu. Ia menemukan kesuksesan finansial berkorelasi dengan conscientiousness, ciri kepribadian yang ditandai dengan ketekunan, ketekunan dan disiplin diri. Untuk mencapai kesimpulan tersebut, dia dan rekannya memeriksa empat kumpulan data yang berbeda, yang antara keduanya termasuk nilai IQ, hasil tes standar, penilaian nilai dan kepribadian untuk ribuan orang di Inggris, Amerika Serikat dan Belanda. Beberapa kumpulan data mengikuti orang selama beberapa dekade, tidak hanya melacak pendapatan tapi juga catatan kriminal, indeks massa tubuh dan kepuasan hidup yang dilaporkan sendiri.

Studi tersebut menemukan bahwa nilai dan hasil uji prestasi merupakan prediktor kesuksesan orang dewasa yang lebih baik daripada nilai IQ. Itu mungkin mengejutkan. Kelas tidak hanya mencerminkan kecerdasan tapi juga apa yang Heckman sebut sebagai "keterampilan non-kognitif," seperti ketekunan, kebiasaan belajar yang baik dan kemampuan untuk berkolaborasi - dengan kata lain, ketaatan. Heckman, yang memiliki Hadiah Nobel pada tahun 2000 dan merupakan pendiri Pusat Ekonomi untuk Pengembangan Ekonomi Universitas Chicago, percaya kesuksesan tidak hanya pada kemampuan bawaan namun juga pada keterampilan yang dapat diajarkan.

Terdapat sebuah cerita mengenai seorang anak perempuan, jadi anak tersebut memiliki nilai IQ yang dibawah rata-rata normal. Namanya Windi yang mendadak terkenal di media sosial akibat kemampuannya yang luar biasa dalam menggambar. Awal mulanya, sebuah pemilik akun Facebook Fauzan Mukrim mengunggah sebuah cerita tentang "Gambar Windi". Dalam cerita tersebut, Fauzan menceritakan kisah Windi yang memiliki kemampuan menggambar sangat detail dan mengagumkan. "Lah, cah bodo kok iso gambar apik banget... (Lah, anak bodoh kok bisa gambar bagus banget...)," tulis Fauzan. Windi memang diketahui memiliki IQ di bawah 90, sehingga dirinya digolongkan sebagai penyandang disabilitas intelektual. Bahkan Windi diketahui hanya bersekolah sampai kelas 3 SD, karena dianggap tidak mampu mengikuti pelajaran. Dengan kondisi tersebut, Fauzan heran dengan intelektual rendah milik Windi tetapi memiliki kemampuan menggambar di atas rata-rata. Kemampuannya itu mengalahkan kemampuan anak-anak lain yang memiliki kecerdasan luar biasa. Fauzan pun menyebut tentang adanya Sindrom Savant. Dimana seseorang yang memiliki kecerdasan di bawah rata-rata, memiliki kemampuan yang sangat luar biasa dibidang lain. Dalam kasus Windi, jelas dia memiliki kemampuan menggambar yang sangat luar biasa. "Saya tidak tahu apakah Windi bisa dikategorikan sindrom savant atau bukan, tapi gambarnya memang sangat bagus menurutku. Postur anatominya pas, dan guratannya juga berkarakter," ungkap Fauzan. Hebatnya, ternyata hampir semua gambar Windi dilakukan tanpa melihat contoh desain apapun. "Sejak kecil Windi memang senang menggambar, tapi baru lima tahun belakangan ini ia gemar menggambar desain busana. Semua dari hasil imajinasinya dan tanpa melihat contoh desain apa pun," tambahnya. Unggahan cerita Fauzan Mukrim tentang "Gambar Windi" itu pun lantas mengundang sejumlah reaksi dari warganet. Mereka banyak yang memuji dan memberikan semangat untuk Windi agar tetap selalu berkarya.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa hal tersebut membuktikan, kecerdasan intelektual atau IQ yang tinggi bukanlah yang terpenting untuk memprediksi kesuksesan seseorang di masa depannya. Rahasia dalam mencapai kesuksesan adalah dengan kegigihan dan pantang menyerah dalam mencapai sesuatu yang diinginkan. Tetapi bukan berarti orang yang memiliki IQ tinggi dan cerdas itu tidak gigih dan pantang menyerah, tergantung kepribadian masing-masing bagaimana dapat mencapai kesuksesan tersebut.

 

Daftar Rujukan

Fitriana, A., Imron, A., Arif, S. (2017). HUBUNGAN ANTARA HASIL TES IQ (INTELLIGENCE QUOTIENT)DENGAN PRESTASI BELAJAR SISWA. Jurnal online UM. Diakses pada tanggal 13 November 2018 melalui http://jurnal.fkip.unila.ac.id/index.php/PES/article/view/12060

Mangiwa, R., Wungouw, H. I. S., Pangemana, D. H. C. (2014). KEMAMPUAN INTELLIGENCE QUOTIENT (IQ) MAHASISWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI. Jurnal e-Biomedik (eBM). Volume 2. Diakses pada tanggal 27 November 2018 melalui http://etheses.uin-malang.ac.id/5173/1/11110176.pdf

Susilawati, D. (2017). Bukan IQ yang Buat Orang Sukses. Diakses pada tanggal 26 November 2018 melalui https://www.republika.co.id/berita/trendtek/sains-trendtek/17/08/08/ouclun335-bukan-iq-yang-buat-orang-sukses