Tipikal Joke ‘Ada yang Menonjol Tapi Bukan Bakat’ Nggak Lucu, Bos!

MOJOK.CO – Belakangan tipikal joke ada yang menonjol tapi bukan bakat dan sejenisnya jadi guyonan template. Ngapain dibiasakan sih, lucu nggak malah melecehkan, jingan!“Ada yang besar tapi bukan harapan….”“Ada yang tegak tapi bukan keadilan.”“Ada yang bulat tapi bukan tekad.”“Ada yang menonjol tapi bukan bakat.”Template joke ini mudah diikuti. Pokoknya berikan sebuah kalimat negasi yang membandingkan antara subjek dan objeknya dalam sebuah kalimat. Awali dengan kata “ada yang…” dilanjutkan dengan kata “tapi bukan…” maka niscaya kalian merasa sudah lawak.Kalau indikator lucu cuma pintar melontarkan jokes sambung macam ini, niscaya jumlah pelawak di Indonesia populasinya meledak. Hmmm, siapa itu Sule, siapa Ernest Prakasa? Fufufu.Tipikal guyon semacam ini sering banget saya temui di Twitter. Awal kemunculannya adalah respons terhadap mbak-mbak joget tiktok yang tetenya terlihat ambyar ke mana-mana. Maka cowo s*ngean langsung merasa boleh untuk menegakkan sesuatu akibat menonton mbak ini? Iya, menegakkan sesuatu yang bukan keadilan.Saya nggak ngerti si kenapa cowok itu bangga menjadi s*ngean, yang jelas guyonan macam ini bikin agak risih ya. Meskipun mbak-mbak joget tiktok ini sengaja goyang dribel demi dibilang seksi pun, saya jadi lebih kasian.Sebegitunya patriarki dianggap biasa sampai membentuk kesadaran palsu di kepala perempuan bahwa perempuan yang akan diakui dan diperhatikan adalah mereka yang menjadikan diri sebagai objek seksual. Sungguh damage.Belakangan guyonan sejenis ‘ada yang menonjol tapi bukan bakat’ ini sampai ke televisi dan diucapkan oleh komentator pertandingan sepak bola. Masalah suporter cewek yang sering dapat catcalling di stadion saja belum selesai, disorot jadi pemanis di bangku penonton akibat kejamnya male gaze. ini malah ditambahin dengan objektifikasi yang nyata.“Ada yg menonjol tp bukan bakat.”“Ada yg besar tp bukan harapan.”Ada yg kosong tp bukan stok masker, tp isi otak kau, komentator mesum.Kasian jd cewe penggemar bola di Indo. Di stadion dilecehin, sama kameramen disorot sbg “pemanis”, sama komentator dijadikan objek seksual. https://t.co/Tc7Hg0WTAl— txtdaribuzzer (@kamalbukankemal) March 8, 2020Baik saya tahu, si komentator sudah meminta maaf dan menyesal dengan apa yang beliau katakan. Semoga saja mulai saat ini dia punya literasi gender yang bagus dan nggak sembarangan koar-koar di televisi.Masalahnya nggak semua orang sadar betul kalau tipikal joke ‘ada yang menonjol tapi bukan bakat’ ini emang nggak lucu. Beberapa menganggap cewek-cewek yang merasa dilecehkan saat di stadion itu lebay. Bahkan cewek yang sengaja disorot kamera hanya karena dia cantik saja sama sekali nggak disadari sebagai male gaze alias ini sudut pandang cowok banget woy.Saya jadi teringat seorang kawan yang entah saking pintarnya atau saking lugunya bertanya, “Emangnya Indonesia masih butuh kesetaraan buat cewek? Lha sekarang cewek udah pada merdeka, terus buat apa?”Gini ya Mz, selama upah perempuan dan laki-laki tidak adil, selama masih ada pelecehan dan kekerasan seksual, selama masih ada perempuan yang takut jalan sendirian di ujung gang karena takut disuitin bapak-bapak yang mangkal di polisi tidur, maka selama itu budaya kita masih patriarki dan perempuan masih harus berjuang biar setara.Saya pernah menjajal nonton pertandingan sepak bola di Stadion Maguwoharjo, kayaknya itu adalah kali pertama dan terakhir saya pergi nonton bola secara live. Selain nggak ngikutin banget sama kancah olahraga ini, ketika itu saya jadi korban catcalling, disuit-suitin dan diajak duduk di sebelah pria-pria mesum laknat. Ini yang bikin saya males balik lagi.Nggak usah tanya baju kali, saya make jilbab, bahkan outer yang nggak ketat.Belum lagi anggapan cewek yang nonton bola itu ternyata punya stigma lumayan negatif. Beberapa teman saya sempat menganggap saya preman karena berani ikut-ikutan jadi suporter bola. Padahal kalau cowok suka bola anggapannya keren kok cewek malah dicap negatif? Apa-apaan sih ini.Seorang netizen di Twitter pernah mencuitkan dengan sopan permintaan tulus agar mereka tidak dilecehkan lagi saat nonton. Kalian akan terkejut jika membaca komentar-komentar menjijikan yang mampir di sana.tolong semua cowo2 supporter diluar sana, buat para kaum hawa betah2 di tribun,ngga jarang dapet cerita dari temen yg kena sexual harrasment di tribun,atau sekedar catcalling yg ngebuat risih,kita juga cuma pengen punya tempat yg sama di tribun buat ngedukung kebanggan????— balqis (@Blqsalimami) February 29, 2020Dengan kondisi berat sebelah yang patriarki abis ini, kalau beneran ada yang bilang kesetaraan gender nggak berguna, dan masih guyon ‘ada yang menonjol tapi bukan bakat’, shareloc sini. Tak sampluk pembalut bekas.BACA JUGA Nia Ramadhani dan Citra Perempuan Nggak Bisa Ngapa-ngapain dalam Media atau artikel lainnya di POJOKAN. #wpdevar_comment_1 span,#wpdevar_comment_1 iframe{width:100% !important;} Loading... Let's block ads! (Why?)

Tipikal Joke ‘Ada yang Menonjol Tapi Bukan Bakat’ Nggak Lucu, Bos!
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

MOJOK.CO Belakangan tipikal joke ada yang menonjol tapi bukan bakat dan sejenisnya jadi guyonan template. Ngapain dibiasakan sih, lucu nggak malah melecehkan, jingan!

“Ada yang besar tapi bukan harapan….”
“Ada yang tegak tapi bukan keadilan.”
“Ada yang bulat tapi bukan tekad.”
“Ada yang menonjol tapi bukan bakat.”

Template joke ini mudah diikuti. Pokoknya berikan sebuah kalimat negasi yang membandingkan antara subjek dan objeknya dalam sebuah kalimat. Awali dengan kata “ada yang…” dilanjutkan dengan kata “tapi bukan…” maka niscaya kalian merasa sudah lawak.

Kalau indikator lucu cuma pintar melontarkan jokes sambung macam ini, niscaya jumlah pelawak di Indonesia populasinya meledak. Hmmm, siapa itu Sule, siapa Ernest Prakasa? Fufufu.

Tipikal guyon semacam ini sering banget saya temui di Twitter. Awal kemunculannya adalah respons terhadap mbak-mbak joget tiktok yang tetenya terlihat ambyar ke mana-mana. Maka cowo s*ngean langsung merasa boleh untuk menegakkan sesuatu akibat menonton mbak ini? Iya, menegakkan sesuatu yang bukan keadilan.

Saya nggak ngerti si kenapa cowok itu bangga menjadi s*ngean, yang jelas guyonan macam ini bikin agak risih ya. Meskipun mbak-mbak joget tiktok ini sengaja goyang dribel demi dibilang seksi pun, saya jadi lebih kasian.

Sebegitunya patriarki dianggap biasa sampai membentuk kesadaran palsu di kepala perempuan bahwa perempuan yang akan diakui dan diperhatikan adalah mereka yang menjadikan diri sebagai objek seksual. Sungguh damage.

Belakangan guyonan sejenis ‘ada yang menonjol tapi bukan bakat’ ini sampai ke televisi dan diucapkan oleh komentator pertandingan sepak bola. Masalah suporter cewek yang sering dapat catcalling di stadion saja belum selesai, disorot jadi pemanis di bangku penonton akibat kejamnya male gaze. ini malah ditambahin dengan objektifikasi yang nyata.

Baik saya tahu, si komentator sudah meminta maaf dan menyesal dengan apa yang beliau katakan. Semoga saja mulai saat ini dia punya literasi gender yang bagus dan nggak sembarangan koar-koar di televisi.

Masalahnya nggak semua orang sadar betul kalau tipikal joke ‘ada yang menonjol tapi bukan bakat’ ini emang nggak lucu. Beberapa menganggap cewek-cewek yang merasa dilecehkan saat di stadion itu lebay. Bahkan cewek yang sengaja disorot kamera hanya karena dia cantik saja sama sekali nggak disadari sebagai male gaze alias ini sudut pandang cowok banget woy.

Saya jadi teringat seorang kawan yang entah saking pintarnya atau saking lugunya bertanya, “Emangnya Indonesia masih butuh kesetaraan buat cewek? Lha sekarang cewek udah pada merdeka, terus buat apa?”

Gini ya Mz, selama upah perempuan dan laki-laki tidak adil, selama masih ada pelecehan dan kekerasan seksual, selama masih ada perempuan yang takut jalan sendirian di ujung gang karena takut disuitin bapak-bapak yang mangkal di polisi tidur, maka selama itu budaya kita masih patriarki dan perempuan masih harus berjuang biar setara.

Saya pernah menjajal nonton pertandingan sepak bola di Stadion Maguwoharjo, kayaknya itu adalah kali pertama dan terakhir saya pergi nonton bola secara live. Selain nggak ngikutin banget sama kancah olahraga ini, ketika itu saya jadi korban catcalling, disuit-suitin dan diajak duduk di sebelah pria-pria mesum laknat. Ini yang bikin saya males balik lagi.

Nggak usah tanya baju kali, saya make jilbab, bahkan outer yang nggak ketat.

Belum lagi anggapan cewek yang nonton bola itu ternyata punya stigma lumayan negatif. Beberapa teman saya sempat menganggap saya preman karena berani ikut-ikutan jadi suporter bola. Padahal kalau cowok suka bola anggapannya keren kok cewek malah dicap negatif? Apa-apaan sih ini.

Seorang netizen di Twitter pernah mencuitkan dengan sopan permintaan tulus agar mereka tidak dilecehkan lagi saat nonton. Kalian akan terkejut jika membaca komentar-komentar menjijikan yang mampir di sana.

Dengan kondisi berat sebelah yang patriarki abis ini, kalau beneran ada yang bilang kesetaraan gender nggak berguna, dan masih guyon ‘ada yang menonjol tapi bukan bakat’, shareloc sini. Tak sampluk pembalut bekas.

BACA JUGA Nia Ramadhani dan Citra Perempuan Nggak Bisa Ngapa-ngapain dalam Media atau artikel lainnya di POJOKAN.

Tirto.ID
Loading...

Let's block ads! (Why?)