Uang Tetaplah Harta Bernilai

Uang Tetaplah Harta Bernilai
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

UANG TETAPLAH HARTA BERNILAI

Macam-macam uang sebagai harta bernilai, dikelompokkan dalam 6 bagian; Dirham (uang perak) dikatakan dalam hadits sebagai salah satu harta yang bernilai. Hal ini dapat ditemukan dalam shahih Bukhari 2269 (11:67). Dirham, merupakan sebuah harta bernilai, sampai-sampai diibaratkan dengan masa akhir perjalanan dunia ini. Begitupula dengan Dinar (uang emas) yang juga disebut sebagai harta bernilai. Dalam sebuah hadits, Dinar memberi sebuah pelajaran bahwa orang kaya tidak boleh berharap pemberian dari orang lain. Dan, orang miskin yang punya hutang harus ada niat untuk membayar utang tersebut.

Walladziina yaknizuuna ad-dzahaba wal fidhdhota wa laa yunfiquunahaa fii sabiilillaah” (dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya di ajaln Allah). Karena sebagai harta bernilai, zahab dan fiddah harus dizakati. Orang yang menyimpan emas dan perak tanpa mengeluarkan zakat, sesuai hadits yang ada, ia akan mendapat azab. Selain itu, ada pelajaran yang harus kita ambil tentang tiga golongan orang kaya, yaitu:

  1. Orang berharta tapi digunakan untuk pamer
  2. Orang berharta yang digunakan untuk berjuang di jalan Allah
  3. Orang berharta yang digunakan untuk kepentingan menebar kebaikan kepada sesama makhluk Allah.

Maka alangkah lebih baik jika harta yang kita miliki,baik Dinar, dirham dan lainnya itu tidak disimpan. Tapi, dikeluarkan zakat atas harta tersebut. Sebagaimana dalam Q.S. Al-Hasyr: 7.

كَيْ لاَ يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأَغْنِيَاء مِنكُمْ

“supaya harta itu jangan beredar di antaraorang-orang kaya saja di antara kamu”

Disebutkan dalam sebuah hadits shahih, yang artinya: "Rasulullah pernah bersabda: Kurma yang kurang dari 5 wasaq, tidak ada zakatnya. Uang (wariq) kurang dari 5 uqiyah tidak ada zakatnya dan unta yang kurang dari 5 ekor tidak ada zakatnya."

Hadits tersebut menyatakan bahwa:

Wariq yang kurang dari 5 uqiyah = 200 dirham = 20 Dinar = 85 gram emas tidak wajib dizakati.

Jika harga 1 gram emas = Rp. 500ribu; maka 5 uqiyah setara Rp. 42.500 ribu. Zakat yang harus dikeluarkan 2,5% x Rp. 42.500 ribu = Rp. 1. 062.500

Jumhur ulama yang lain menyatakan:

1 dirham = 3 gram emas, sehingga

5 uqiyah (200 dirham) = 600 gram emas x 500 ribu = Rp. 300juta

1 Dinar = 4,8 gram emas

5 uqiyah (20 Dinar) = 96 gram emas x 500ribu = Rp. 43juta

Dalam sebuah potongan hadits shahih, diceritakan bahwa nantinya, akan ada tiga golongan yang pertama kali akan masuk neraka.

  1. Pemimpin yang kejam
  2. Orang fakir yang sombong
  3. Orang kaya yang banyak harta tapi tidak memberikan hak hartanya (membayar zakat)

Hadits di atas memiliki pengertian bahwa harta kekayaan itu wajib dizakati. Uang adalah alat atau instrument bernilai dalam kehidupan manusia da sangat mempengaruhi proses ekonomi yang ada di masyarakat. Tidak hanya itu, namun juga dapat memberikan dampak pada masalah moral, sosial, kesehatan, kesejahteraan dan lain sebagainya. Fungsi uang tetaplah menjadi harta berharga. Namun, pada masa sekarang, uang sejenis dinar, dirham dan maa uang lainnya, sudah amat ketinggalan zaman.

Memasuki era digital, perputaran ekonomi manusia mengalami transformasi amat pesat. Termasuk instrumentnya juga mengalami transformasi. Sejak abad ke 6 SM sampai sekarang, sudah tidak zamannya lagi membahas mata uang masa lalu dalam porsi yang berlebihan. Kita telah mengenal uang elektronik (e-money), berbagai kartu pembayaran seperti kartu ATM, kartu debit, kartu kredit, go pay, ovo dan masih banyak lagi. Uang-uang tersebut, merupakan uang zaman sekarang yang memiliki andil besar dalam kehidupan manusia dan Negara-negara di dunia

Penulis: Amarta Risna Diah Faza (Mahasiswa Pascasarjana Ekonomi Syari'ah)