Yang Tergantikan

Yang Tergantikan
(Ilustrasi ibu dan anak /Pinterst)

Aku tinggal bersama dengan ibuku. Ibuku merupakan istri kedua dari ayahku, sejak aku lahir sampai umur tiga belas tahun aku tidak tinggal satu rumah dengan ayahku, hanya dengan ibu, tinggal dirumah yang sederhana. Ibuku selalu memperlakukanku dengan kasar, Ibu selalu membentakku dengan kata-kata kasar seperti “Dasar ga berguna!” “Bodoh” dan “Otaknya dipake” dan sebagainya. Tidak lupa ia selalu memberikanku hukuman seperti aku lupa menutup pintu kamarnya ibu selalu kmemukulku dengan kemoceng, dan tidak di izinkan makan jika aku pulang tidak tepat waktu karena aku sekolah dan melaksanakan ekskul.

Walaupun ibuku orang yang kasar, setiap malam ketika aku terbangun untuk minum atau sedang mengerjakan tugas sekolah aku pasti mendengar suara ibu menangis dikamar. Kupikir mungkin ibu kesepian karena tidak tidur bersama ayah, tidak seperti pasangan suami istri pada umumnya.

Ayahku seorang pengusaha, ayah hanya mengunjungi kami seminggu sekali, memberikan uang kepada ibu untuk keperluan hidup kami dan sekolahku. Tidak pernah menginap dan menghabiskan waktu untuk liburan bersama kami ataupun memberikan perhatian seorang ayah dan suami kepada kami.Ya kupikir mungkin ayah sangat sibuk.

Sampai suatu ketika aku berusia empat belas tahun.  Ayah datang kerumah dan menginginkan aku untuk tinggal bersama ayah tanpa ibu. Walaupun ibu memperlakukanku dengan kasar, aku tetap menyayanginya dan ingin tetap tinggal bersama. Ya bersama ayah dan ibu. Tidak hanya aku dan ayah. Ayah meninggalkan ibu sendiri. Saat tiba dirumah ayah, aku disambut dengan istri pertama ayah.

Istri pertama ayah memanggilnya bunda. Kupikir bunda tidak akan menerima keberadaanku karena aku adalah anak dari istri kedua suaminya, akan diluar dugaanku. Bunda selalu memperlakukanku dengan lembut, baik dan selalu memberikan perhatian yang penuh. Alasan kenapa ayah menginginkan aku untuk tinggal bersama dengannya dan istri pertamanya karena mengetahui perlakuan ibu kepadaku dan bunda menginginkan seorang anak. Tapi aku tidak pernah lupa untuk sesekali mengunjungi ibu, setelah pisah dengan ibu setiap aku berkunjung kerumahnya ibu mulai berubah. Ibu menyambutku begitu hangat dan sering merindukanku.