YUK, TINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR PADA SISWA!

YUK, TINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR PADA SISWA!
source: google.com
YUK, TINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR PADA SISWA!

Semua manusia dilahirkan dengan pikiran. Anugerah pikiran yang dimiliki setiap manusia pastinya berbeda-beda, unik, tidak terpikirkan oleh manusia lain, dan sebagainya. Kemampuan berpikir manusia perlu diasah agar dapat memahami sesuatu dengan baik, khususnya pada anak-anak. Sejak masa kanak-kanak inilah pentingnya pelatihan dan peningkatan kemampuan dalam berpikir. Semakin berkembangnya zaman dan teknologi maka proses berpikir pun kian pesat dan ketat pada setiap pembelajaran.  Menurut Khodijah (dalam Hariyani, 2012) definisi berpikir adalah melatih ide-ide dengan cara yang tepat dan seksama yang dimulai dengan adanya masalah. Pembelajaran selama ini hanya mengajarkan tentang isi materi pelajaran dan mengesampingkan pengajaran keterampilan berpikir, sehingga sebagian siswa sama sekali tidak memahami keterampilan berpikir yang  dibicarakan (Fisher, dalam Amir, 2015). Sekolah menghabiskan terlalu banyak waktu bagi siswa untuk memberikan jawaban yang benar dengan cara yang meniru, daripada mendorong siswa untuk mengembangkan pemikiran mereka dengan mengajukan ide-ide baru dan memikirkan kembali kesimpulan sebelumnya (Jacqueline & Brooks, dalam Santrock, 2017). Namun, adapun lembaga pendidikan non-formal dari Korea Selatan yaitu Eye Level yang mengusung latihan berpikir kritis matematika untuk membantu anak mampu memecahkan masalah melalui latihan berpikir kritis matematika, misalnya pola hubungan, geometri, pengukuran, pemecahan soal, serta penalaran (dalam Kompas, 2020). Menurut perwakilan Eye Level Indonesia, Aditiawarman (dalam Kompas, 2020), kemampuan berpikir kritis ini juga akan berguna bagi masa depan anak dalam memecahkan setiap persoalan yang ditemuinya kelak.

 

Berpikir kritis merupakan sebuah proses yang terarah dan jelas yang digunakan dalam  kegiatan mental seperti memecahkan masalah, mengambil keputusan, membujuk dan  menganalisa asumsi, dan melakukan penelitian ilmiah (Elaine, dalam Sanderayanti, 2015). Critical thinking menjadi salah satu kecakapan hidup yang dibutuhkan anak karena merupakan keterampilan seorang individu untuk mencari dan mendapatkan pengetahuan yang valid dan terpercaya sehingga dapat menjadi panduan keyakinan, keputusan dan bertingkah laku (Natalina, 2015). Salah satu cara yang digunakan oleh guru untuk merangsang kemampuan siswa dalam berpikir kritis adalah dengan memberikan tugas yang mengharuskan siswa untuk fokus pada suatu masalah, pertanyaan, atau masalah, daripada hanya menyebutkan fakta (Santrock, 2017). Selanjutnya terdapat kemampuan intelektual berpikir kritis menurut Sanderayanti (2015), yaitu:

  1. Kemampuan identifikasi dan rekognisi yang terdiri dari kemampuan menemukan tujuan, permasalahan, kesimpulan, dan mencari informasi dari suatu fenomena terkini.
  2. Kemampuan komprehensif terdiri dari kemampuan untuk mengungkapkan persamaan dan perbedaan mengenai suatu hal secara signifikan.
  3. Kemampuan aplikasi, terdiri atas kemampuan membandingkan situasi yang sejalan sehingga dapat menjadikan wawasan  ke dalam  konteks  yang  baru.
  4. Kemampuan analisis, terdiri dari kemampuan menjelaskan dan menganalisa.
  5. Kemampuan sintesis merupakan kemampuan menghubungkan dan menggabungkan unsur pengetahuan dan membentuk pola baru yang komprehensif.
  6. Kemampuan evaluasi terdiri dari kemampuan untuk mengevaluasi kredibilitas dari sumber-sumber informasi.

 

Dengan demikian,  mengembangkan atau meningkatkan kemampuan berpikir kritis pada siswa juga memerlukan proses yang kompleks dan membutuhkan penyesuaian atau adaptasi menjadi faktor yang utama untuk diperhatikan lebih lanjut oleh guru. Sementara itu, terdapat beberapa strategi untuk meningkatkan cara berpikir anak menurut Santrock (2017) yaitu menjadi pemandu dalam membantu siswa mengkonstruksi pemikirannya sendiri, menggunakan pertanyaan berbasis dengan pemikiran, memberikan teladan positif untuk berpikir, jadilah teladan berpikir bagi siswa, dan tetap up-to-date dalam berpikir pada perkembangan terbaru. Sedangkan, Suwarma (dalam Ariyanto et al., 2020) mengemukakan bahwa ada empat alasan mengapa kemampuan berpikir kritis perlu dikembangkan, diantaranya membiasakan siswa dalam mencari informasi secara mandiri sesuai dengan kebutuhan atau tuntutan zaman, memberikan bekal bagi siswa dalam menghadapi suatu masalah, membiasakan siswa melihat suatu masalah dari berbagai sudut pandang, melalui kemampuan berpikir kritis siswa dapat bersaing dan bekerja sama dalam menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, membentuk siswa untuk berpikir kritis merupakan suatu hal yang mudah dengan diiringi pembimbing atau guru yang melaksanakan proses belajar mengajar yang terarah dan tetap mengontrol siswanya dengan baik dan benar.

 

 

Referensi:

Amir, M. F. (2015). Proses berpikir kritis siswa sekolah dasar dalam memecahkan masalah berbentuk soal cerita matematika berdasarkan gaya belajar. Jurnal Math Educator Nusantara: Wahana Publikasi Karya Tulis Ilmiah Di Bidang Pendidikan Matematika, 1(2), 159-170. Diakses pada 16 November 2020 melalui https://ojs.unpkediri.ac.id/index.php/matematika/article/view/235

Anna, L. K. (2020, Februari 15). Eye Level Indonesia perkenalkan latihan berpikir kritis Matematika. Kompas.com. Diakses pada 16 November 2020 melalui https://lifestyle.kompas.com/read/2020/02/15/101141720/eye-level-indonesia-perkenalkan-latihan-berpikir-kritis-matematika

Hariyani, I. T. (2012). Hubungan keaktifan bertanya dengan berpikir kreatif pada siswa SMPN 1 Taman Sidoarjo. (Skripsi). UIN Sunan Ampel Surabaya. Diakses pada 17 November 2020 melalui http://digilib.uinsby.ac.id/10000/

Natalina, D. (2015). Menumbuhkan perilaku berpikir kritis sejak anak usia dini. Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 6(1), 1-6. Diakses pada 18 November 2020 melalui https://ejournal.upi.edu/index.php/cakrawaladini/article/view/10508/6493

Sanderayanti, D. (2015). Pengaruh motivasi berprestasi dan kemampuan berpikir kritis terhadap hasil belajar matematika siswa di SDN Kota Depok. Jurnal Pendidikan Dasar, 6(2), 222-231. Diakses pada 15 November 2020 melalui http://journal.unj.ac.id/unj/index.php/jpd/article/view/484

Santrock, J. (2017). Educational Psychology. 6th edition. New York : Mc-Graw-Hill